Kali ini Mutasi Death Metal Siapkan Album Baru Bersama Label Rusia

Categories: Collaboration

Share
“Lagu-lagu kami yang sudah dirilis maupun album yang sedang dalam tahap penyelesaian menceritakan tentang kehidupan setelah kematian.”

Demikian ungkapan Komarudin, vokalis Mutasi, grup musik death metal asal Karawang. Pada tahun 2017 bersama label dari Thailand “Sick Chainsaws Production” Mutasi debut “Promo 2017” yang menetaskan “Intro”, “Punishment The Infidels”, dan salah satu karya monumental mereka “Human in Hell”  sebuah kisah epik yang menggambarkan penyesalan umat manusia di hari pembalasan, dengan setiap notasi menggema seperti jeritan dari neraka. Dengan karakteristik suara melengking yang memekik jiwa dan nuansa kelam yang menyentuh relung terdalam. Juga pada tahun 2021 lepaskan single “Eternal Suffering” menggandeng label local “Underrated Records”.

Instrumen yang saat ini sedang digarap Mutasi terbilang cukup memakan waktu yang terbilang lama. Dengan mempertahankan pattern deathmetal khas Indonesia, namun tetap memiliki identitas yang unik. Bahkan, dalam perjalanan kreatifnya, Mutasi menggandeng nama besar untuk menambah kekuatan musikal mereka. “Di salah satu album terbaru, kami berkolaborasi dengan Daniel (DarkSoul & Bonga Bonga), mantan vokalis pertama Deadsquad. Selain Daniel, kami juga bekerja sama dengan Septian Satriani, gitaris berbakat asal Karawang yang merupakan teman satu tongkrongan,” ungkap Komarudin dengan antusias.

Cerita di Balik Mutasi Death Metal

Nama Mutasi sendiri memiliki filosofi yang mendalam. “Mutasi berarti berpindah,” jelas Komarudin. “Pindah dari proyek lama ke proyek baru yang lebih ambisius. Kami bertiga awalnya memiliki proyek band masing-masing yang berbeda. Namun, melalui jamming di Dream Music Studio, kami menemukan chemistry yang luar biasa dan memutuskan untuk serius dengan proyek baru ini.”

Dengan formasi solid yang terdiri dari Komarudin (Vokal), Mahmudin (Drum), Nur Iqbal (Gitar 1), dan Abdul Wali (Gitar 2), Mutasi berhasil menghadirkan warna baru bagi musik death metal di kota industri. Setiap personel memberikan kontribusi terbaiknya, menciptakan harmoni minor yang menggugah jiwa.

Dalam proses album terbarunya, Mutasi tidak hanya menghadirkan kolaborasi dengan berbagai musisi deathmetal ternama, tetapi juga menandai langkah besar dengan berpindah ke label baru dari Rusia. Selain itu, aspek visual juga mendapat perhatian khusus. Untuk menciptakan pengalaman yang utuh, Mutasi menggandeng warga lokal sana Ivan Stan, seniman visual asal Rusia. Dengan sentuhan magis Ivan Stan dipastikan akan memperkuat atmosfer album terbaru Mutasi.

Harapan Mutasi untuk Pendengar

Di akhir wawancara, Mutasi menyampaikan harapan besar yang menjadi pendorong semangat mereka. “Harapannya, lagu-lagu yg sedang kami garap ini semoga nantinya dinikmati dengan puas dan menginspirasi. Kami ingin setiap nada, setiap kata dalam lirik kami, dapat menyentuh hati para pendengar, memberikan pesan yang mendalam, sekaligus membangkitkan semangat,” tutup Komarudin dengan penuh keyakinan.

Dengan konsep yang matang, kolaborasi yang kuat, dan dedikasi yang tanpa henti, Mutasi siap memberikan warna baru di dunia death metal Indonesia. Sebuah perjalanan yang penuh gairah, dan sebuah suara yang akan terus meriak di kegelapan. Kita tunggu saja. (YFS)

Urar Rig Grup Musik Solo Kota Industri, Hadirkan Realitas Lewat “Remuk Harapan”

Categories: Collaboration

Share
Urar Rig grup musik solo asal Karawang yang bisa dibilang satu-satunya menawarkan realitas melalui lagunya. Bicara soal Urar Rig, tampil seorang diri merupakan modal liar yang tidak biasa, hanya ditemani gitar dan sequencer. Namun, sang vocalis bisa membuktikan melalui judul lagunya berjudul “Remuk Harapan”.

Mengenal Urar Rig tidak terlepas dari sosok vokalisnya yang senang bermain game PC, hingga kemudian terinspirasi untuk membuat band bernama Urar Rig.
“Urar Rig diambil dari kata Urar adalah sebuah akronim dari gabungan depan nama lengkap saya, dan Rig adalah peralatan tempur pertama Berupa Personal Computer (PC) yang dirakit sendiri dan diberi nama, nama ini juga menjadi nickname akun game,” kata Rizki yang sering disapa Urar.

Hingga saat ini, kata Urar nama ini dipakai sebagai brand personal, termasuk salah satunya di bidang musik.
“Jadi kawan-kawan memanggil saya urar bahkan sampai level manajer hingga presiden direktur memanggil dengan nama Urar padahal bukan nama asli,” terangnya.
 
Sinergi Urar Rig dan Remuk Harapan

Karya yang ditulis dalam lirik-lirik lagunya diakuinya bertemakan jalur perlawanan dan tentang kehidupan yang banyak dialami oleh orang orang.
“Jadi masalah khususnya anak muda yang sedang mencari jati diri, hampir 100% karya yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi sisanya diambil dari curahan isi hati orang orang,” tuturnya.

 Urar juga menjelaskan untuk garapan musik sendiri, ia menggarap secara mandiri dari proses penulisan lirik, aransemen hingga perekaman.
“Proses pembuatan karya baik dari penulisan, aransemen, perekaman hingga proses siap mixing dan mastering semua dilakukan di studio pribadi saya yang diberinama Predator Record Studio,” jelasnya.

Salah satu EP perdana berjudul Remuk Harapan, dengan artwork yang dikerjakan oleh seorang seniman asal Malang bernama Wisnu.
“Untuk inspirasi musik saya terpengaruh oleh Burgerkill dan Band asal Jogja Captain Jack,” sahutnya.

Sementara itu, diakhir wawancara Urar berharap karyanya mampu membangun semangat pendengarnya untuk bisa menjadi sosok yang lebih baik.
“Siapa pun yang mendengar karya yang ditulis Urar Rig bisa membangun semangat dan diimplementasikan di kehidupan nyata dengan baik dan menjadi pemberontak yang bertanggung jawab, be rebel with responsible,” tandasnya. (YFS)

Numb Hate Numb Uraikan Melodi Emosi dan Refleksi dari CLIFFSIDE

Categories: Collaboration

Share
Numb Hate Numb lahir dari perjalanan unik dan penuh makna. Awalnya, "Love Hate Love" sempat menjadi opsi, namun terasa kurang menggambarkan energi emosional yang mereka bawa. Inspirasi akhirnya datang dari dua lagu ikonik: "Uncomfortably Numb" oleh “American Football” dan "Numb, but I Still Feel It" dari “Title Fight”, yang menjadi soundtrack tak resmi setiap sesi latihan mereka. Numb Hate Numb menjadi simbol yang merangkum ambivalensi perasaan manusia—mati rasa terhadap kebencian, tetapi terus hidup dan beresonansi melalui musik.

Debut formasi Alternative Rock dari Karawang ini terdiri dari tiga personel inti: Farhan (vokal dan gitar) yang membawa melodi penuh kejujuran, Heron (vokal dan bass) yang menjadi fondasi ritmis penuh kedalaman, dan Sulton (drum) sebagai penggerak dentuman energi. Dalam penampilan live, mereka sering mendapat dukungan dari Abo Reiwa, yang menyumbangkan pattern nada tambahan melalui gitar.

"CLIFFSIDE" : Sebuah Hidangan Pembuka

Hidangan pembuka mereka, "CLIFFSIDE," adalah sajian pertama dari perjalanan menuju EP atau mini album yang tengah diracik. Lagu ini tecipta dari lirik yang torehkan Farhan terlebih dahulu, kemudian dibalut dengan aransemen instrumental yang menjaga kedalaman emosinya.

“Cliffside itu mencoba membuka segala bentuk kepedulian tentang perasaan manusia sekedar datang duduk mendengarkan tanpa menghakimi sebuah kesalahan.” Ungkap Farhan menjelaskan makna lagu tersebut. Upaya membuka dialog tanpa prasangka, memberikan ruang aman untuk emosi manusia. 

Tidak terlalu menggunakan banyak teknik pada lagu ini, liriknya sendiri merupakan poros utamanya, memuntahkan perasaan yang mengantarkan siapapun pendengarnya ke sisi jurang dan mengepakkan sayap kemudian.

Lahir dari Kebetulan, Disempurnakan oleh Kolaborasi

Proses kreatif "CLIFFSIDE" menjadi cerita tersendiri. Dengan hanya modal 50% materi yang direncanakan, sisanya tercipta secara spontan dalam sesi jamming di studio. Dukungan dari “Unseen Record” sangat berarti dalam membantu mereka merealisasikan single ini, sementara peran Abo sebagai rekan kolaboratif juga memiliki peranan penting dalam proses produksi lagu.

Mendapatkan inspirasi dan support dari band-band lokal seperti “Lingkar Cendala “ dan “Reiwa”. Bukan hanya sebagai sesama musisi, mereka juga berperan sebagai pemberi stimulant, mentor dan pendukung dalam perjalanan band ini. Kolaborasi di lingkaran komunitas menjadi fondasi penting bagi identitas musik mereka.

Dalam kurun waktu satu bulan, "CLIFFSIDE" terpilih sebagai single pembuka yang mencerminkan esensi album mendatang. Visual dari lagu ini dirancang oleh Sulton, yang dengan apik menangkap semangat dan energi band melalui desain artwork yang relatif sederhana namun tersesaki makna.

Kini “CLIFFSIDE" sudah bisa didengarkan pada platform official mereka dan bagi siapapun yang mendengarkan "CLIFFSIDE" NUMB HATE NUMB berharap musik ini menjadi medium merasakan, merenung, dan mungkin sebuah harapan yang membawa pesan-pesan damai. (INQ)