Jakarta — Bless the Knights pelopor djent di Indonesia, kembali mendistorsi skena Tanah Air! Unit metal asal Jakarta ini baru saja masuk nominasi Artis Metal Terbaik di AMI Awards 2024, sebuah legacy yang penuh haru dan bukti kalau mereka nggak main-main dalam meracik karya. Djent sendiri merupakan subgenre dari metal progresif. Nominasi ini menjadi kali keempat bagi Bless the Knights, setelah sebelumnya diakui di tahun 2016, 2018, dan 2023.
Bukti Konsistensi, Luncurkan Lagu Baru yang makin Ganas
Setelah kabar nominasi ini, Bless the Knights tancap gas merilis track terbaru mereka, “Crying in the Desert”. Track ini adalah buah karya sang gitaris, Fritz Faraday alias Mrfritzfaraday. Dengan groove-groove yang menarik dan interval melodi yang tak terduga membawa pendengar hanyut ditiap nada yang dramatis.
Juga berbarengan dengan rilisan versi instrumental yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Kombinasi palm muting dan staccato memberikan dinamika yang kontras juga tuning rendah menambah kesan djenty pada musiknya.
Makna di Balik "Crying in the Desert" yang Menyentuh Jiwa
Bukan sekadar lagu, “Crying in the Desert” hadir dengan cerita yang relatable. Lagu "Crying in the Desert" mengeksplorasi tema tentang pengorbanan yang tidak dihargai. Cerita di balik lagu ini menggambarkan seseorang yang telah berjuang dan berkorban, tetapi pengorbanan tersebut dianggap remeh oleh orang-orang yang dicintainya.
Lewat keterangan tertulisnya, Mrfritzfaraday mengungkapkan, "Lagu ini berasal dari pengalaman pribadi dan pengamatan saya terhadap bagaimana pengorbanan sering kali tidak dimengerti atau bahkan diabaikan oleh orang-orang terdekat."
Fritz Faraday: Kunci Keberhasilan Dalam Berkarya
Fritz Faraday, sebagai penggagas utama di balik Bless the Knights, dikenal sebagai penulis lagu yang memiliki reputasi baik. Banyak lagu yang ia ciptakan telah meraih penghargaan, tidak hanya dari AMI Awards tetapi juga berbagai media musik terkemuka.
Fritz menjelaskan, "Kesuksesan saya dalam menciptakan lagu-lagu berkualitas adalah hasil dari dedikasi dan kemauan untuk mendengarkan suara hati serta pengalaman pribadi. Musik adalah cara saya mengekspresikan diri dan berbagi cerita."
Pembicaraan tentang kekuatan musik dan pengaruhnya terhadap pendengar menjadi fokus utama Fritz. "Saya selalu percaya bahwa lagu yang baik dapat berbicara lebih dari sekadar kata-kata. Saat pendengar berhubungan dengan musik kami, itu adalah pengakuan terbesar bagi saya sebagai seorang musisi."
Sinergi Bless the Knights yang Makin Solid dan Kuat!
Bless the Knights terdiri dari Fritz Faraday (gitaris), Cas Coldfire (vokalis), Dongeng (screamer), dan Cukong (drummer). Setiap anggota memiliki power juga karakter yang berbeda, saling melengkapi dalam mengaitkan harmoni merupakan kekuatan disetiap penampilan mereka.
Cas Coldfire, sang vokalis, menambahkan, "Kami memiliki ikatan yang kuat di dalam band ini. Setiap ide dan setiap nada yang diciptakan adalah hasil kolaborasi yang penuh semangat."
Bless the Knights berharap bahwa dengan rilisnya "Crying in the Desert," mereka dapat menjangkau lebih banyak pendengar dan memberikan dampak positif melalui musik mereka.
Dongeng ikut menambahkan pentingnya merangkul tema universal dalam musik mereka. "Kami ingin musik kami dapat diterima oleh semua orang, memberi suara bagi yang tidak terdengar dan menjembatani emosi yang mendalam."
Keep In Touch dengan Bless the Knights!
Buat yang pengen terus update tentang progres mereka, ikuti perjalanan Bless the Knights di Instagram lewat akun @blesstheknights_official dan @theknights.id. Jangan lupa dengerin juga "Crying in the Desert" yang telah rilis di semua platform streaming 24 Oktober 2024, bersama video liriknya di YouTube. Gas dengerin dan rasakan vibe totalitas bikin headbang sekaligus menyentuh jiwa—hellyeah!
https://www.youtube.com/embed/ySrrMVXdbfU
Comments
Romantisme Liar dan Bising: THE PLOTTWIST ledakkan ‘GENNOISE’
Seperti nama bandnya, THE PLOTTWIST—konsep romantisme didekonstruksi dan ditransformasikan menjadi sesuatu yang liar dan penuh narasi distorsi. Lirik-liriknya menjelajahi sisi gelap dari cinta — ketidakpastian, kegelisahan, dan kebisingan emosional yang sering kali menyertai hubungan. Di tengah arus mainstream yang menampilkan cinta dengan warna-warni manis,The Plottwist memilih untuk menampilkan realitas yang lebih kompleks dan kadang menyakitkan.
Bermula dari untaian kata “Gen” dan “Noise” menggabungkan elemen kebisingan dan generasi ketidakpedulian. Lagu ini bukan sekadar karya, tetapi juga sebuah manifesto yang menggugah pemikiran tentang cinta dalam ketidakpuasan. Gennoise! mengajak pendengar merayakan cinta yang tak terduga sebagai bagian dari perjalanan menuju pemahaman diri dan rasa kecewa; Disappointment’s basically my BFF.
Lengkingan hangat riff gitar dan ritme yang menggugah menciptakan atmosfer yang hampir agresif. Refleksi perjuangan individu melawan harapan dan penilaian dari dunia luar, bak jeritan jiwa yang menantang status quo. Penambahan unsur Slide-Glass sendiri menciptakan efek melankolis juga sebagai pembeda dari dua single sebelumnya The Last Summer dan Motherland. Suguhan psychedelic rock yang jaya pada era Jimi Hendrix, Black Sabbath, Led Zeppelin, dll matang diracik oleh band asal Serang tersebut di era saat ini— generasi digital natives atau mereka yang lahir di era digital.
Digerakkan oleh empat pria funky dari Serang Banten, Ivan sebagai vokalis dan bassis, Depoo sebagai gitaris, Lee Jason juga sebagai gitaris dan Faiqal menggebuk drum melengkapi vibrasi rock n roll yang ganas. Yang kabarnya setelah Gennoise! rilis akan segera menyelesaian runtutan untuk albumnya.
Kepada redaksi BVCKLESMIGGLE, Ivan pun mengakui proses produksi dalam penggarapan trackGennoise! membutuhkan waktu selama tujuh bulan. Pembuatan liriknya berkolaborasi dengan Taufik Bonbon. Kemudian proses mixing dan mastering dieksekusi di Good Luck Studio masih di Serang. Namun untuk cover artwork bernuansa happytrippy art dikerjakan mandiri oleh Faiqal.
Rilis secara masif dan agresif di bulan Juli kemarin, Gennoise! sudah bisa didengarkan pada seluruh platform digital seperti Apple Music, Joox, Spotify, YouTube, dan Deezer pada kanal official mereka. LFG! segera kita santap, hellyeah###
Revitalisasi terbaru dari Tore Up cukup menggebrak ranah hardcore baru-baru ini. Selain lebih eksploratif, beat juga riffnya tersuar brutal elegance. Quintet asal Jakarta ini—membuktikan pesona hardcore sebagai pembakar ketenangan batin, lagu ini meluapkan bait amarah dalam vokal namun tetap harmonis. Ia menelanjangi penikmatnya membawa mereka terhanyut dalam perjalanan panjang yang introspektif, suram, dan mendalam.
Tegas menurut mereka—suram merupakan hasil perjalanan panjang dalam eksplorasi batin dan pencarian makna ditengah-tengah tantangan emosional. Dalam lagu ini, Tore Up menggambarkan suasana hati dan perasaan melalui media yang haunting serta lirik yang membangkitkan. Dengan arensemen musik agresif juga vokal yang penuh perasaan. Lahir dari pengalaman pribadi dan pengamatan terhadap dunia sekitar. Bermaksud pendengarnya merasakan helatan emosi yang dialami dan mungkin menemukan sesuatu yang terhubung dengan diri mereka sendiri.
Menjelajahi horizon baru, Tore up menjajal lirik berbahasa Indonesia. Proses kreatif digarap secara otonom di studio milik gitaris Redy Mahendra pada keseluruhan musik tanpa intervensi resonansi dari luar. Bahkan klimaksnya take vocal-pun dilakukan di gudang pakaian Hanry Marshal. Mengoptimalkan celah potensi yang ada, Tore up berdiri teguh, berkarya tanpa cela dalam gelora tak terpadamkan.
Hanry Marshal (vocal), Naufal Pradana (gitaris), Redy Mahendra (gitaris), Barni Setiawan (bass), Fiorel Fijri (drum) siap melucuti kalian semua dengan track panas mereka.
“Suram” telah dirilis horizontal pada Spotify, bersamaan dengan peluncuran video musiknya pada kanal Youtube resmi mereka “Tore Up Official”. Dan mereka siap menyelenggarakan tour di beberapa kota besar mulai Oktober nanti. Lets eat the food, rebellion!