Debut Single "The Echo of Me", SILVERCRY Bawa Amarah Nu Metal Baru dari Bandung

Categories: Music

Share
Silvercry, band bergenre Nu-Metal asal Bandung resmi mengawali perjalanan musiknya melalui perilisan single berjudul “The Echo of Me” yang berkisah tentang konflik batin, kehampaan, dan ambisi untuk didengar di tengah kesunyian dunia sebagai titik awal dari karya mereka selanjutnya.

Terbentuk pada Juli 2025, Silvercry digawangi oleh Rida Wildani/Willy (vokal & founder), Ahmad Akbar Maulana/Abam(rap), Muhamad Rafly Satriani (gitar), Mahessa Akbar Rizky Ramadhan (bass & visual designer), dan Cucu(turntablist) mencoba menghadirkan kembali elemen-elemen musik yang memadukan DJ scratch, rap, heavy noise riffinserta nuansa elektronik dibalut vokal emosional sebagai ciri khasnya. Terinspirasi dari nama-nama besar diskena Nu Metal seperti Linkin Park, Korn dan Limp Bizkit, Silvercry meramu agresi dan kepekaan serta dengan pesan kuat tentang keberanian menghadapi luka batin dan suara hati sendiri. 

Secara komposisi musik perpaduan Nu Metal tahun 2000an yang raw, low tuning dan permainan scratch-nya yang menjadi benang merah disetiap riff dan verse-nya. Intro dan temponya sendiri seperti mengambil root dari lagu One Step Closer ‘Linkin Park’ dan karakter screamin voice ala Jon Davis ‘Korn’. Sebuah kombinasi yang apik dalam menyatukan dua unsur Nu Metal kedalam satu lagu yang penuh dengan teriakan amarah.

“The Echo of Me” merupakan potret perjuangan melawan rasa takut dan kesepian yang sedang menanti kehangatan dari dunia yang terasa membisu. Liriknya menangkap rasa terperangkap dalam gema pikiran sendiri suara batin yang berulang tanpa jawab. Lewat vokal yang penuh penghayatan dan aransemen musik yang intens, Silvercry menyampaikan pesan universal yaitu perjuangan untuk tetap bertahan di tengah kesunyian.

Willy, vokalis sekaligus penulis lagu menjelaskan “The Echo of me” adalah suara dari sisi terdalam yang sering kita sembunyikan dan terluka secara batin. 

“We want you to know that you’re not alone in the silence. We’re here with you too”

Silvercry mencoba hadir sebagai ruang ekspresi bagi generasi kini yang ingin senantiasa didengar keluhannya. Dengan latar belakang sebagai mahasiswa musik, para personelnya membawa semangat eksperimental dan idealisme muda yang kuat. Mereka juga telah aktif di stage lokal (FINDER 7: MINDSPACE) dan akan terus bergerak dalam ekosistem musik independen Bandung dan Nasional kedepannya.

“The Echo of Me” kini resmi dirilis pada melalui label mandiri mereka, Crossvelium Records dan telah tersedia di berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan Deezer. 

Lesgowww support mereka dengan follow IG @silvercry dan nantikan karya-karya mereka selanjutnya. Congratulations! (INQ)

Dari Kota Kecil di Riau, WEARS Lahirkan EP “Heal Your Wounds” Leburkan Era Grunge dan Post-Hardcore

Categories: Music

Share
Dari sudut kecil di Bangkinang, sebuah gema baru dari skena alternatif mulai terdengar. WEARS terbentuk pada tahun 2024, kembali menegaskan keberadaannya lewat EP perdana bertajuk “Heal Your Wounds.” Sebuah rilisan yang lahir dari kegelisahan personal, namun dibungkus dengan energi distorsi yang liar penuh emosional.

Sebelumnya, WEARS sempat memperkenalkan diri melalui single perdana mereka bertajuk “Enough.” Dari sana, arah musikal mereka mulai terbaca dengan menggali tema-tema personal yang tidak selalu nyaman untuk dibicarakan yaitu tentang krisis identitas, ketakutan, kehilangan, hingga ketidakstabilan mental. Dalam “Heal Your Wounds,” tema-tema tersebut berkembang menjadi narasi yang lebih utuh, menjadikan EP ini terasa seperti catatan luka yang diubah menjadi suara.

Secara musikal, WEARS memadukan fondasi alternative rock dengan karakter grungy yang kental. Distorsi gitar yang berat dan cenderung muram dipertemukan dengan sentuhan emosional khas post-hardcore, sementara jejak emo awal 2000-an tipis-tipis dan atmosfer grunge revival ikut memperkaya lanskap suara mereka. Hasilnya adalah komposisi yang melankolis namun tetap agresif seolah bergerak di antara keheningan dan ledakan perasaan.

Proses rekaman EP ini dilakukan di Uhuuy Records yang berbasis di Bukittinggi. Sementara distribusi digitalnya dirilis di bawah naungan Backstabbed Records, label yang aktif mendukung pergerakan band-band dalam skena underground di Riau.

Dalam EP ini, WEARS menghadirkan riff gitar yang kuat dengan struktur sound yang berat. Pengaruh dari band-band seperti Superheaven, Narrow Head, Sunny Day Real Estate, hingga Fleshwater terasa membentuk atmosfer melankolis yang kemudian meledak dalam klimaks post-hardcore yang emosional.

“Heal Your Wounds” terasa seperti upaya WEARS untuk menemukan bahasa mereka sendiri—bahasa yang lahir dari luka, kegelisahan, dan keberanian untuk mengekspresikannya melalui distorsi.

Pasca perilisan digital ini, WEARS juga tengah mempersiapkan sebuah showcase untuk memperkenalkan materi dari EP tersebut secara langsung. Detail mengenai acara tersebut akan diumumkan dalam waktu dekat melalui kanal resmi mereka.

EP “Heal Your Wounds” kini telah tersedia di berbagai platform musik digital, menandai langkah awal WEARS dalam memperluas resonansi suara mereka dari kota kecil menuju skena yang lebih luas! (INQ)

LYRA Unit Shoegaze Asal Bandung, Debut Maxi Single “Bleed/Trace” Vibesnya Bikin Merinding

Categories: Music

Share
Keresahan, mimpi yang berulang, dan kecemasan emosional menjadi benang merah yang melatarbelakangi lahirnya LYRA, unit alternatif rock / shoegaze asal Bandung yang terbentuk pada Maret 2025. Band ini beranggotakan Abizair Abrar (vokal/bass), Fadhilla Maulana (gitar), dan Jauzaa Fachrie (drum).

Memasuki tahun 2026, LYRA resmi memperkenalkan diri lewat debut maxi single bertajuk “Bleed / Trace”, yang dirilis secara independen. Rilisan ini menjadi langkah awal mereka untuk menandai kehadiran di skena musik alternatif dengan pendekatan sound yang gelap, atmosferik, dan penuh tekanan emosional.

Secara musikal, LYRA banyak dipengaruhi oleh band-band seperti Slow Crush, Faetooth, King Woman, dan Holy Fawn. Pengaruh tersebut terasa kuat melalui karakter sound yang mereka bangun yakni lapisan gitar berat, ambience yang luas, serta ruang suara yang seakan menelan emosi di dalamnya.

Melalui “Bleed / Trace”, LYRA langsung memperkenalkan identitas musikal yang padat dan tenggelam dalam atmosfer gelap—sebuah dunia yang dipenuhi tekanan batin dan kecemasan yang terasa konstan.

Maxi single ini dibangun dengan dark vibration yang bikin merinding. Menggambarkan kondisi ketika harapan dan rasa sakit bercampur hingga sulit dipisahkan. Perasaan itu meninggalkan jejak yang terus terbawa, bahkan ketika seseorang mencoba melangkah pergi. Kedua track dalam rilisan ini disusun sebagai satu rangkaian cerita yang saling terikat.

Track pertama, “Bleed”, menangkap momen ketika harapan dan rasa sakit hadir bersamaan. Tekanan tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari tuntutan pada diri sendiri yang mendorong tindakan tanpa pertimbangan. Dalam kondisi tersebut, rasa kebal terhadap sakit perlahan membuat respons menjadi dingin dan datar. Lagu ini terasa seperti potret kelelahan emosional yang sunyi. Momen pasrah yang masih menyisakan sedikit harapan, terdengar seperti permintaan sederhana untuk berhenti dan dibiarkan sendiri.

Cerita kemudian berlanjut dalam track kedua, “Trace”. Lagu ini berbicara tentang keinginan untuk kembali kepada diri yang dulu, setelah hubungan dan pola sikap menghindar perlahan mengubah cara seseorang menjalani hidup. Meski mencoba melangkah maju, rasa takut yang tertinggal tetap membekas, seperti jejak yang sulit dihapus.

Dalam proses pengembangannya, maxi single ini disusun melalui kolaborasi internal antar anggota band. Setiap personel berperan dalam membentuk arah produksi yang konsisten. Track “Bleed” ditulis oleh Abizair Abrar sebagai kerangka ide dan struktur utama yang kemudian dikembangkan bersama dalam tahap aransemen. Sementara itu, “Trace” ditulis oleh Fadhilla Maulana dengan kontribusi pengembangan musikal dari seluruh anggota LYRA.

Dari sisi produksi, kedua track direkam di Norman Studio sebagai basis utama pengerjaan materi. Proses mixing dan mastering ditangani oleh Haikal Badjeber untuk memastikan karakter musik yang padat dan atmosferik tetap terjaga. Sementara itu, aspek visual dari maxi single ini juga mendapat sentuhan personal materi art photography digarap langsung oleh Abizair Abrar sebagai perpanjangan dari konsep estetika yang selaras dengan identitas musik LYRA.

Lewat “Bleed / Trace”, LYRA membuka pintu menuju dunia musik distorsi, penuh emosi, di ruangan sunyi. Debut ini menjadi titik awal perjalanan mereka di dunia musik, sebuah langkah pertama untuk rilisan-rilisan yang patut dinanti dalam menggali sisi gelap dari identitas LYRA. Congratulations! (INQ)