Tamoor dan Cinta yang Tumbuh di Balik Distorsi Lewat Single “Love Blossoms Here”

Categories: Music

Share
Dari sudut ruang latihan yang dipenuhi dengung amplifier hingga sesi workshop yang mematangkan setiap detail aransemen, Tamoor kembali melangkah dengan cerita baru. Unit rock asal Karawang ini resmi memperkenalkan singleketiga mereka, “Love Blossoms Here”, yang telah dirilis pada awal Februari kemarin.

Setelah sebelumnya merilis “Mastermind” dan “John Larry” yang sarat kritik sosial dan politik, Tamoor kini memilih arah yang berbeda. Di single terbarunya, mereka menurunkan tensi amarah dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih intim tanpa kehilangan karakter rock yang selama ini mereka bangun.

Terbentuk pada 26 Maret 2023, Tamoor diperkuat oleh Yazid Zidan (vokal), Byan Alfar (lead guitar), Fathan Farid(bass), dan Ryan Lutfy (drum). Sejak awal, mereka menancapkan identitas pada semangat rock 70-an dengan pakem riff gitar fuzzy, anthem groove yang terasa hidup, berbalut raw energy.

Namun di “Love Blossoms Here”, distorsi yang biasa terdengar garang justru menjadi latar bagi cerita yang lebih hangat.

Mengangkat kisah cinta yang tumbuh secara alami tentang pertemuan yang tak direncanakan, kedekatan yang berkembang perlahan, dan diperkuat dengan keyakinan emosional. Tentang perasaan yang hangat. Liriknya pun sengaja memberi ruang interpretasi bagi siapa pun yang mendengarkannya.

Secara musikal, Tamoor tetap setia pada fondasi rock 70-an. Riff gitar rumit berpadu dengan bassline yang harmonis dan ketukan drum yang solid, menciptakan keseimbangan antara nuansa hangat dan energi yang tetap menggigit. Referensi mereka terasa kuat pada band-band klasik seperti Led Zeppelin, Deep Purple, dan Queen di era album awal rock yang penuh groove, dinamis, dan dengan berani memainkan kontras emosi.

Proses penciptaan lagu ini bermula pada November 2024 saat Byan mulai menulis lirik sekaligus merancang progresi musik dan notasinya. Lagu tersebut kemudian dikembangkan bersama seluruh personel melalui sesi workshop hingga menemukan bentuk yang paling utuh. Sejak rampung pada Februari 2025, “Love Blossoms Here” disiapkan sebagai bagian dari fase baru perjalanan musikal Tamoor.

Menurut Byan, lagu ini lahir dari pengalaman sederhana yang meninggalkan kesan mendalam

“‘Love Blossoms Here’ mengangkat kisah cinta yang tumbuh secara alami—tentang pertemuan, kedekatan, dan keyakinan emosional yang perlahan mengakar kuat. Di lagu ini kami ingin menangkap momen ketika cinta hadir bukan sebagai euforia sesaat, melainkan sebagai perasaan yang menetap dan memberi makna. Selebihnya, orang bebas menafsirkan dan membawa makna dari lagu ini ke mana pun mereka mau,” ungkapnya.

Sementara itu, Yazid melihat single ini sebagai penanda perubahan cara pandang mereka terhadap tema dan musik.

“Melalui ‘Love Blossoms Here’, kami membuka mindset baru bahwa musik yang bagus dan playable nggak selalu harus mengangkat topik yang berat. Bahkan, hal-hal yang paling manusiawi seperti cinta—pun bisa jadi sesuatu yang jujur dan kuat untuk disampaikan.” Tutup Yasid.

Lewat “Love Blossoms Here”, Tamoor membuktikan bahwa distorsi tidak selalu identik dengan kemarahan. Di balik dentuman kasar dan fuzz yang tebal, ada sisi yang lebih lembut dibalut distorsi yang tetap membara.

Penasaran dengan lagunya? “Love Blossoms Here” sudah tersedia di seluruh platform digital streaming favorit kalian! Bravo fren! (INQ)

Setahun “Limerence”, Therapy Session Gaungkan EP Akustik “Echoes of Limerence”

Categories: Music

Share
Genap setahun sejak album “Limerence” dirilis, Therapy Session memilih merayakannya dengan cara yang lebih personal. Lewat EP akustik bertajuk “Echoes of Limerence”, mereka menghadirkan versi yang lebih hening dari perjalanan emosional yang telah dilalui. Proyek ini tayang dalam format full session di YouTube bertepatan dengan Hari Valentine dan tersedia di seluruh platform digital sejak 21 Februari 2026 kemarin.

Alih-alih dirayakan dengan gebrakan besar, Therapy Session justru memilih pendekatan yang lebih intim. Naomi menyebut bahwa cinta tak selalu membutuhkan pengakuan dari siapapun. 

“Karena rasa cinta yang sesungguhnya tidak membutuhkan pengakuan dari siapa pun. Cinta tumbuh dari diri sendiri akan pemaknaan dan segala kenangannya,” ujarnya.

EP ini memuat empat lagu yaitu “Candala”, “Misery”, medley “Don’t Let Your Story End / I Let My Heartbreak Again”, serta “Renjana”. Lagu terakhir memiliki ruang khusus karena sempat direncanakan masuk ke album “Limerence”, namun ditunda lantaran belum terasa matang. Kini, “Renjana” hadir sebagai kepingan cerita yang akhirnya menemukan momentum yang tepat.

Reinned menjelaskan bahwa keempat lagu tersebut merupakan fondasi emosional dari proses kreatif album. Kehadiran “Renjana” seakan melengkapi narasi yang sebelumnya belum tuntas.

“Dari penyamaan visi, perombakan personel, hingga dinamika personal yang pasang surut, semuanya terjalin dalam fase ini, lagi-lagu ini tumbuh bersama kami,” ungkapnya.

Secara musikal, format akustik menjadi langkah eksploratif bagi band yang selama ini identik dengan distorsi dan intensitas tinggi. Dalam “Echoes of Limerence”, lapisan distorsi dilepas untuk memberi ruang yang lebih jujur.

Rifki menyebut pendekatan ini sebagai cara merayakan album secara lebih dalam dan mudah diresapi. Naomi menambahkan, 

“Merelakan hal yang selama ini digenggam dengan begitu erat, ternyata harus dilepaskan untuk bisa terbang lebih tinggi.”

Bagian dapur produksi ditangani oleh Hendro Ryan di H.137 Studio. Mengadaptasi lagu-lagu yang awalnya penuh energi menjadi aransemen akustik tentunya bukan perkara mudah. Salah satu momen paling emosional terjadi saat trackingchorus terakhir “Renjana”, ketika seluruh personel menyanyikannya bersama dalam satu frekuensi rasa.

Secara visual, artwork EP ini menampilkan rumah dari era “Limerence” yang terbakar merupakan simbol perpisahan sekaligus transisi untuk fase selanjutnya. Naomi menggambarkannya sebagai metafora kehilangan yang tak terhindarkan. Namun lebih dari itu, visual tersebut menjadi simbol keberanian untuk meninggalkan ruang lama demi membuka babak baru.

 “Ini perayaan satu tahun yang masih akan berkembang, sekaligus gerbang menuju perjalanan berikutnya,” tutup Men.

Meski album baru belum digarap secara resmi, proses pengumpulan referensi dan brainstorming materi telah dimulai. Lewat “Echoes of Limerence”, Therapy Session menghidupkan kembali gaungnya yang lebih intim, lebih matang, dan siap melangkah menuju fase ganas selanjutnya. (INQ)

“Perfidious” Gugatan REIWA Atas Pengkhianatan Sang Pengendali Kuasa

Categories: Music

Share
REIWA kembali menegaskan sikapnya lewat single terbaru bertajuk “Perfidious.” Sebuah judul yang diambil dari istilah dalam kamus Oxford yang berarti “pengkhianat”. Ditangan Reiwa, kata ini menjelma menjadi simbol kemarahan kolektif atas kepercayaan yang dirusak oleh mereka yang memegang kendali kuasa.

Lewat “Perfidious”, Reiwa memotret sosok pemegang mandat yang justru mencederai amanahnya. Lagu ini menjadi refleksi atas figur-figur yang secara sistematis melakukan kelalaian berulang yang pada akhirnya pengkhianatan terasa seperti rutinitas yang dinormalisasi. Dalam fenomena sosial yang sarat kompromi, Reiwa memilih untuk tidak diam.

Secara atmosfer, “Perfidious” dibangun dengan nuansa geram sekaligus muram. Emosi yang mengendap terasa seperti bara yang siap menyala lewat pesan yang cukup jelas mereka utarakan, bahwasanya kekuasaan tanpa integritas adalah ancaman.

Menariknya, di balik kemarahan yang lugas, lagu ini tetap menyisakan ruang harapan. 

“Kami percaya bahwa perlawanan yang tumbuh dari solidaritas adalah fondasi yang mampu meruntuhkan kekuasaan para pengkhianat,” tegas Reiwa.

Mereka percaya bahwa langkah kebersamaan merupakan fondasi perlawanan. Ketika kesadaran kolektif itu tumbuh, kuasa yang dibangun di atas pengkhianatan pada akhirnya akan runtuh oleh suaranya sendiri.

“Perfidious” juga menjadi pengingat moral, bahwa generasi mendatang layak mewarisi dunia yang lebih jujur dan adil. Karya mereka layak menjadi medium untuk menjaga kewarasan publik.

Melalui rilisan ini, Reiwa mengajak pendengar untuk menjaga bara harapan dan berani mengambil sikap. Single yang menjadi representasi bagi suara-suara yang kerap disisihkan, sekaligus penegasan bahwa perlawanan tak pernah benar-benar kehilangan ruang untuk tumbuh. Kini lagunya sudah bisa didengar diseluruh digital platform musik kesayangan kalian. Bravo!! (INQ)