ANGEL OF DEATH Rilis “PESTA BUNUH DIRI”, Kritik Brutal Tentang Kematian Nalar di Era Global

Categories: Music

Share
Di tengah hiruk pikuk yang semakin bising oleh propaganda digital, polarisasi sosial, dan budaya instan yang menggerus identitas manusia, unit metal asal Sukabumi, ANGEL OF DEATH kembali muncul membawa ledakan baru bertajuk “Pesta Bunuh Diri”. Sebuah manifesto perlawanan terhadap kematian kesadaran manusia modern.

Formasi terbaru mereka diisi oleh Faizal (vokal), Okky (gitar), Wig (bass), dan Adji (drum). Chemistry tersebut terasa semakin matang dan terasa lebih agresif, dan lebih berani membongkar realitas sosial melalui medium musik ekstrem.

Dengan karakter agresif yang selama ini menjadi identitas mereka, Angel Of Death memperluas spektrum musik dengan atmosferik yang lebih gelap. Lagu yang meraung seperti alarm darurat di tengah reruntuhan peradaban digital yang brutal dan sesak.

“Pesta Bunuh Diri” adalah metafora satir mengenai bunuh diri eksistensial. Sebuah kondisi ketika manusia secara sukarela menyerahkan nalar, spiritualitas, bahkan identitas personalnya demi diterima dalam sistem sosial yang seragam dan dikendalikan secara masif.

Angel Of Death membedah fenomena tersebut melalui lirik yang tajam. Mereka menyoroti bagaimana manusia modern perlahan dipaksa berdansa mengikuti ritme budaya global yang menciptakan standar kebahagiaan palsu. Di balik ilusi kemajuan, manusia justru semakin jauh dari realitas dirinya sendiri.

Dalam semesta “Pesta Bunuh Diri”, media sosial digambarkan sebagai arena penghancuran kolektif. Polarisasi menjadi alat kontrol paling efektif dimana manusia sibuk saling menyerang demi ideologi yang pada akhirnya berasal dari sumber kekuasaan yang sama. Kebencian dipelihara, ego dipertentangkan, sementara kesadaran perlahan dilumpuhkan.

Angel Of Death juga menyentuh konsep digital panopticon — sebuah kondisi ketika algoritma menjelma menjadi penjara tak kasat mata. Setiap klik, interaksi, hingga data pribadi berubah menjadi komoditas dalam sistem pengawasan modern. Kita merasa bebas, padahal sedang berjalan menuju bentuk penghambaan baru yang lebih halus dan lebih mematikan.

Kematian individu menjadi inti dari keseluruhan narasi lagu ini. Sebuah perayaan massal atas hilangnya jati diri akibat kontrol sistemis yang bekerja secara perlahan namun nyata. “Pesta Bunuh Diri” terdengar seperti soundtrack generasi yang hidup di tengah kebisingan informasi namun kehilangan nalar mereka.

“Lagu ini adalah pengingat bahwa jika kita tidak segera bangun dan mengambil alih kemudi pikiran kita sendiri, kita hanyalah tamu yang diundang dalam sebuah perayaan yang bertujuan untuk melenyapkan kemanusiaan kita.”

Bersamaan dengan perilisan single-nya di berbagai platform digital, Angel Of Death juga menggelar ritual pelepasan amarah sekaligus refleksi kolektif bagi skena underground bertajuk “Pesta Bunuh Diri” dalam event live show Ruang Berisik Chapter 8 yang diselenggarakan di Pride Palace Coffee, Sukabumi bulan April lalu.

Lewat rilisan ini, Angel Of Death menawarkan kemarahan yang nyata. Mereka sengaja menyusun sebuah cermin besar bagi masyarakat modern dan memperlihatkan bagaimana manusia perlahan kehilangan dirinya sendiri di tengah pesta besar bernama peradaban. Congratulations! (INQ)

MEGATRUH SOUNDSYSTEM Lepas Single “Tari Di Medan Api” Sebagai Wahana Berdansa Wong Kalahan

Categories: Music

Share
Berawal pada tahun 2023 hingga kini, sejatinya Megatruh Soundsystem memang hampir tak pernah bermain aman. A unit Duo Mystical Heavy Dub dari Yogyakarta yang diperkuat oleh Ari Hamzah dan Kiki Pea rupanya memilih konsep meramu heavy mystical dub sembari menyelipkan aroma post-punk dan darkwave yang terasa kelam dan mencekam. Tak sekadar musik sahaja, Megatruh Soundsystem malah menjadikan suara dan bunyi-bunyian menjadi senjata perlawanan dalam membaca realitas para kaum minoritas.

Setelah "Palu Kuasa" memberi hantaman isyarat yang tegas, kini mereka kembali meluncurkan single "Tari di Medan Api” yang merupakan sebuah komposisi instrumental sekaligus menjadi awal menuju album kedua. Dirilis melalui Dugtrax Records (DOM 65, Sukatani, B.O.A.R., The Glad, Viva City, Sakarin, Amok) bekerjasama dengan produser Wok The Rockmenjadikannya tidak sekedar heavy ska-dub, tetapi lebih ke menggabungkan bass beat ala subkultur Jamaika, ska instrumental menyatu padu dengan perkusi barongsai lokal dan getaran ritual Jathilan yang hipnotik. Hasilnya seperti menjalani ritual di tengah hiruk pikuk bass beats yang bergema, delay yang membentuk lorong waktu, dan menciptakan ruang mistisisme dan politis.

Yang menarik, "Tari di Medan Api" sengaja dirilis pada malam takbir menjelang Idul Fitri lalu untuk mencoba memaknai berbagai bunyi-bunyian khas takbiran, petasan, drum jalanan, riuhnya perayaan malam jelang lebaran. Momen tersebut diibaratkan menjadi narasi musikal tentang bertahan di atas api zaman. Kiki Pea menyatakan bahwa Ini adalah tarian orang tanpa panggung, tanpa mimbar politik, tanpa mikrofon. Yang mereka punya hanyalah dentuman bass dan tubuh yang terus bergerak.

Bagi Megatruh, dub dan ska merupakan bahasa kelas pekerja yang lahir dari jalanan Jamaika yang berasal dari tumpukan speaker di gang sempit hingga mengubah ruang publik menjadi ruang resonansi kolektif yang konon tidak diberikan oleh penguasa.

Di tangan mereka, semangat itu dicoba diterjemahkan kedalam karakter kontemporer lokal Indonesia seperti trance, ritual, noise, dan kegelapan post-punk disatukan bukan sekadar untuk uji coba estetika, melainkan untuk merakit ulang serpihan kebudayaan yang selama ini dipisahkan oleh industri hiburan dan logika pasar. 

Nama Megatruh sendiri diambil dari tembang macapat Jawa, menggambarkan momen lepasnya ruh dari raga. Sebuah metafora melepaskan kesadaran dari ilusi kekuasaan modern (propaganda, nasionalisme kosong dan kebohongan politik). Dalam dunia yang terus membara oleh konflik sejarah yang tak pernah reda, Megatruh Soundsystem memilih untuk menari karena hanya itu yang dimiliki oleh buruh, pekerja malam, pemuda jalanan, dan mereka yang tinggal di pinggiran.

Karena pada akhirnya, musik adalah wahana berdansa orang-orang yang kalah.

"Tari di Medan Api" by Megatruh Soundsystem kini telah menjadi bagian dari perilisan Album  "HEAVY MYSTICAL DUB" dan telah dibuka sesi preorder Albumnya melalui bandcamp Dugtrax Records. Akses melalui tautan resmi dugtraxrecords.wordpress.com dan videoklipnya bisa kalian saksikan di kanal Youtube Frogstone. (INQ)

FOUR ABYSS, A Side Project Dari Personil OBELYSK, TORMENTOR & SURA Akhirnya Merilis Full Album “Kingdown” Sebagai Bentuk Amarah Pada Sistem

Categories: Music

Share
FOUR ABYSS a side project dari personil OBELYSK, TORMENTOR & SURA yang merupakan band Chaotic Hardcore asal Kota Semarang, Jawa Tengah, Indonesia (Atlas City) yang beranggotakan Eric (Vokal), Topan (Gitar 1), Dwi “Kecap” (Gitar 2) dan Raiz (Drum). Mereka resmi membentuk band tersebut pada tahun 2023 dengan latar belakang pertemanan di sebuah tongkrongan Kota Semarang lantai 2.

Terinspirasi dari beberapa band seperti Land Mark, Alpha Wolf, Knocked Loose, dan Dealer. Gaya penulisan lirik dan aransemen berdasarkan referensi tersebut memiliki kendali penuh dalam penulisan dan pembuatan album “KINGDOWN” yang secara resmi dirilis pada tanggal 3 April 2026 kemarin sebagai sebuah awal perjalanan penuh Four Abyss dalam bermusik. 

Sebuah harapan besar dapat merilis sebuah karya album penuh, “KINGDOWN” yang berisikan 7 track berdurasi 21 menit lebih 43 detik hadir sebagai bentuk perlawanan terhadap broken system, premature dan cacat.

Pada track “Ruled by Dogs” sebagai lagu pembuka, sang penulis lagunya, Eric mengisahkan tentang keresahannya pada sebuah sistem yang seakan setia pada sosok dibalik sistem tersebut. Seperti para anjing yang hanya tunduk ketika diberi makan oleh majikannya. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa anjing-anjing itu akan bisa menyerang sang majikan apabila diperlakukan dengan tidak baik.

Seluruh tracks memiliki benang merah sama yaitu rasa muak atas ketidakpuasan sistem yang berjalan saat ini dan seakan-akan sengaja membuat polemik dan ketidaksejahteraan ditengah realita  masyarakat. Sistem negara ini yang Korupsi, Kolusi, Nepotisme, Pembunuhan, Politik Kotor dan Tindakan Represif Aparat seakan sudah menjadi presidensi buruk sejak lama namun tidak ada tanda akan berakhir tanpa perlawanan dari rakyatnya sendiri. Rasa kecewa dan ketidakadilan itulah yang membuat penulisan lirik di album “KINGDOWN” menjadi sangat jujur dan mewakili pesan masyarakat marjinal.

Dengarkan lagu-lagu mereka sebagai bentuk solidaritas melawan absurditasnya sebuah sistem yang ada. Sebagai bagian dari promosi album “KINGDOWN”, Four Abyss sedang merilis rilisan fisik dalam bentuk CD dan T-Shirt dan akan ikut serta meramaikan hari Record Store Day (RSD) bersama Atlas Records dalam bermusik, berkarya, dan tumbuh bersama. Congratulations! (INQ)