Urar Rig Grup Musik Solo Kota Industri, Hadirkan Realitas Lewat “Remuk Harapan”

Categories: Collaboration

Share
Urar Rig grup musik solo asal Karawang yang bisa dibilang satu-satunya menawarkan realitas melalui lagunya. Bicara soal Urar Rig, tampil seorang diri merupakan modal liar yang tidak biasa, hanya ditemani gitar dan sequencer. Namun, sang vocalis bisa membuktikan melalui judul lagunya berjudul “Remuk Harapan”.

Mengenal Urar Rig tidak terlepas dari sosok vokalisnya yang senang bermain game PC, hingga kemudian terinspirasi untuk membuat band bernama Urar Rig.
“Urar Rig diambil dari kata Urar adalah sebuah akronim dari gabungan depan nama lengkap saya, dan Rig adalah peralatan tempur pertama Berupa Personal Computer (PC) yang dirakit sendiri dan diberi nama, nama ini juga menjadi nickname akun game,” kata Rizki yang sering disapa Urar.

Hingga saat ini, kata Urar nama ini dipakai sebagai brand personal, termasuk salah satunya di bidang musik.
“Jadi kawan-kawan memanggil saya urar bahkan sampai level manajer hingga presiden direktur memanggil dengan nama Urar padahal bukan nama asli,” terangnya.
 
Sinergi Urar Rig dan Remuk Harapan

Karya yang ditulis dalam lirik-lirik lagunya diakuinya bertemakan jalur perlawanan dan tentang kehidupan yang banyak dialami oleh orang orang.
“Jadi masalah khususnya anak muda yang sedang mencari jati diri, hampir 100% karya yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi sisanya diambil dari curahan isi hati orang orang,” tuturnya.

 Urar juga menjelaskan untuk garapan musik sendiri, ia menggarap secara mandiri dari proses penulisan lirik, aransemen hingga perekaman.
“Proses pembuatan karya baik dari penulisan, aransemen, perekaman hingga proses siap mixing dan mastering semua dilakukan di studio pribadi saya yang diberinama Predator Record Studio,” jelasnya.

Salah satu EP perdana berjudul Remuk Harapan, dengan artwork yang dikerjakan oleh seorang seniman asal Malang bernama Wisnu.
“Untuk inspirasi musik saya terpengaruh oleh Burgerkill dan Band asal Jogja Captain Jack,” sahutnya.

Sementara itu, diakhir wawancara Urar berharap karyanya mampu membangun semangat pendengarnya untuk bisa menjadi sosok yang lebih baik.
“Siapa pun yang mendengar karya yang ditulis Urar Rig bisa membangun semangat dan diimplementasikan di kehidupan nyata dengan baik dan menjadi pemberontak yang bertanggung jawab, be rebel with responsible,” tandasnya. (YFS)

Numb Hate Numb Uraikan Melodi Emosi dan Refleksi dari CLIFFSIDE

Categories: Collaboration

Share
Numb Hate Numb lahir dari perjalanan unik dan penuh makna. Awalnya, "Love Hate Love" sempat menjadi opsi, namun terasa kurang menggambarkan energi emosional yang mereka bawa. Inspirasi akhirnya datang dari dua lagu ikonik: "Uncomfortably Numb" oleh “American Football” dan "Numb, but I Still Feel It" dari “Title Fight”, yang menjadi soundtrack tak resmi setiap sesi latihan mereka. Numb Hate Numb menjadi simbol yang merangkum ambivalensi perasaan manusia—mati rasa terhadap kebencian, tetapi terus hidup dan beresonansi melalui musik.

Debut formasi Alternative Rock dari Karawang ini terdiri dari tiga personel inti: Farhan (vokal dan gitar) yang membawa melodi penuh kejujuran, Heron (vokal dan bass) yang menjadi fondasi ritmis penuh kedalaman, dan Sulton (drum) sebagai penggerak dentuman energi. Dalam penampilan live, mereka sering mendapat dukungan dari Abo Reiwa, yang menyumbangkan pattern nada tambahan melalui gitar.

"CLIFFSIDE" : Sebuah Hidangan Pembuka

Hidangan pembuka mereka, "CLIFFSIDE," adalah sajian pertama dari perjalanan menuju EP atau mini album yang tengah diracik. Lagu ini tecipta dari lirik yang torehkan Farhan terlebih dahulu, kemudian dibalut dengan aransemen instrumental yang menjaga kedalaman emosinya.

“Cliffside itu mencoba membuka segala bentuk kepedulian tentang perasaan manusia sekedar datang duduk mendengarkan tanpa menghakimi sebuah kesalahan.” Ungkap Farhan menjelaskan makna lagu tersebut. Upaya membuka dialog tanpa prasangka, memberikan ruang aman untuk emosi manusia. 

Tidak terlalu menggunakan banyak teknik pada lagu ini, liriknya sendiri merupakan poros utamanya, memuntahkan perasaan yang mengantarkan siapapun pendengarnya ke sisi jurang dan mengepakkan sayap kemudian.

Lahir dari Kebetulan, Disempurnakan oleh Kolaborasi

Proses kreatif "CLIFFSIDE" menjadi cerita tersendiri. Dengan hanya modal 50% materi yang direncanakan, sisanya tercipta secara spontan dalam sesi jamming di studio. Dukungan dari “Unseen Record” sangat berarti dalam membantu mereka merealisasikan single ini, sementara peran Abo sebagai rekan kolaboratif juga memiliki peranan penting dalam proses produksi lagu.

Mendapatkan inspirasi dan support dari band-band lokal seperti “Lingkar Cendala “ dan “Reiwa”. Bukan hanya sebagai sesama musisi, mereka juga berperan sebagai pemberi stimulant, mentor dan pendukung dalam perjalanan band ini. Kolaborasi di lingkaran komunitas menjadi fondasi penting bagi identitas musik mereka.

Dalam kurun waktu satu bulan, "CLIFFSIDE" terpilih sebagai single pembuka yang mencerminkan esensi album mendatang. Visual dari lagu ini dirancang oleh Sulton, yang dengan apik menangkap semangat dan energi band melalui desain artwork yang relatif sederhana namun tersesaki makna.

Kini “CLIFFSIDE" sudah bisa didengarkan pada platform official mereka dan bagi siapapun yang mendengarkan "CLIFFSIDE" NUMB HATE NUMB berharap musik ini menjadi medium merasakan, merenung, dan mungkin sebuah harapan yang membawa pesan-pesan damai. (INQ)

Hal Yang Sama, Gebrakan Eksperimental Kolaborasi Javanese Cat dan Ranggart

Categories: Music

Share
Setelah setahun senyap tanpa rilisan baru, Javanese Cat, satu-satunya band grunge asal Cikampek-Karawang yang masih panas mengguncang gigs ke gigs ini, hadir kembali dengan gebrakan terbarunya. Kali ini, mereka menggandeng Ranggart, solois ballad asal Pontianak, dalam single bertajuk "Hal Yang Sama". Dirilis akhir November kemarin, lagu ini bukan hanya pemantik untuk album kedua mereka yang akan keluar tahun depan, tapi juga sebuah pernyataan bahwa musik lokal punya daya dobrak luar biasa.

Bukan Lagu Cinta “Mainstream

"Hal Yang Sama" bukan lagu cinta biasa. Ini adalah anthem bagi siapa saja yang percaya bahwa cinta sejati tidak butuh alasan, hanya kejujuran. Dengan pesan kuat untuk menerima pasangan apa adanya, tanpa ekspektasi berlebihan, lagu ini merangkul emosi pendengar dengan lirik yang jujur dan aransemen yang menggebu. Dari riff gitar yang tajam hingga vokal khas Ranggart, setiap elemen terasa dirancang dengan hati sebagai target utamanya.

Dapur Produksi Dipenuhi Musisi Lokal

Proses kreatif lagu ini diproduksi dengan semangat kolektif. Ramadhan Tama dari "Lingkar Cendala" menggantikan Carlos di posisi bass sementara Ramdan Rhuswana dari "Sembilan Persen" mempercantik lagu dengan isian pianonya. Sentuhan megah orkestra diaransemen oleh M. Syidik Subagja “Hyperbolic Culture” sehingga mengantarkan dimensi baru pada lagu ini, menambah keintiman lirik dengan percikan energi musikal.

Kepada tim Bvckle Smiggle, Ray Cornell gitaris dan otak kreatif Javanese Cat menceritakan awal mula kolaborasi ini terlaksana.

"Sebenernya lagu ini awalnya gue ciptain buat proyek solonya Ranggart," ungkapnya, "Tapi Ranggart minta kolaborasi sama Javanese Cat. Tujuan kolaborasi ini buat menyatukan aja sih, antara musisi indie dan musisi reguleran. Rangga sering ngisi di cafe-cafe, sedangkan Javanese Cat lebih ke gigs underground. Akhirnya gue fokus di departemen gitar, dan hasilnya lebih dari yang gue bayangkan." pungkasnya.

Proses rekaman di Broadway Music, dengan M. Syidik Subagja sebagai produser, berlangsung selama tiga minggu penuh tantangan, mulai dari jadwal manggung yang padat hingga sakit yang sempat menghambat.

Gebrakan Aransemen Eksperimental

"Hal Yang Sama" adalah percampuran liar antara grunge, pop, dan jazz. Dengan beat drum sederhana dari Abay, teknik gitar Ray yang kasar dipadukan Seattle Sound  tak luput sayatan gitar yang penuh emosi dikemas dengan vokal unik Ranggart menjadikannya sesuatu yang sulit diabaikan. Overall lagu ini memiliki daya tarik tersendiri.

Perjalanan Panjang Javanese Cat di Skena Musik

Enam tahun lalu, di tengah riuh kota Cikampek, Javanese Cat lahir dari kreatifitas sekelompok karyawan Kompas Gramedia. Band ini kemudian tumbuh menjadi trio solid dengan formasi Ray (gitar/vokal), Abay (drum), dan Carlos (bass). Mereka adalah pionir lokal yang tak ragu mengeksplorasi genre, dari grunge 90-an hingga punk, jazz, dan heavy metal. Album perdana mereka, The Best of the Beast (2021), serta single seperti Larut, Amarila, dan Deselerasi Distorsi Rindu (2023), telah membuktikan kemampuan mereka sebagai salah satu band yang patut diwaspadai di skena musik, lokal khususnya.

"Hal Yang Sama" telah available di semua platform digital official mereka. Jangan lewatkan kesempatan untuk merasakan gebrakan baru dari Javanese Cat dan Ranggart. Mari bersama merayakan cinta, musik, dan gimmick kehidupan yang tak pernah lekang! (INQ)

Kredit Produksi

Lagu dan lirik: Ray Cornell

Recording, Mixing, dan Mastering: Broadway Music oleh Muhammad Syidik Subagja

Vokal: Ranggart

Gitar: Ray Cornell

Bass: Carlos Manalu

Drum: Akbar Zildjian

Instrumen tambahan: Ramdhan Rhuswana ("Sembilan Persen")