4 Kali Masuk Nominasi AMI Award Bless The Knights Hadirkan Knight League Part 2 

Categories: NEWS

Share
Skena metal kembali diguncangkan oleh Bless The Knights yang berturut-turut lagu-lagunya masuk nominasi Anugerah Musik Indonesia (AMI) award sebagai Best Metal Action 2024. Perihal itu, Bless The Knights merayakannya dengan menghadirkan Knight League ke-2 di New Viva Entertainment (NVE) Cinere, Depok.

Bless The Knights dikenal skena metal sebagai pelopor genre djent di Indonesia. Dalam perayaan itu juga Bless The Knights resmi merilis single terbaru bertajuk Crying in the Desert.

Frizt Faraday selaku gitaris dan punggawa Bless The Knights mengatakan Knight League ini sudah pernah diadakan pada tahun 2018.

“Knight League ini kedua diadakan sebagai perayaan lagu Parekletos masuk dalam nominasi AMI award 2024 sebagai Best Metal Action,” kata Frizt sapaan akrabnya saat ditemui dalam Knight League di NVE Cinere, Depok pada Minggu (24/11/2024).

Dalam pantauan di lokasi, Knight League hadirkan beberapa band yakni Blood The Face, Last Blood, Flip Me!, My Beloved Enemy, dan Humanimal.

Fritz juga menjelaskan nominasi AMI award bukan hanya pada tahun 2024 saja. Pada tahun-tahun sebelumnya, Bless The Knights juga pernah masuk nominasi dengan judul lagu Metamorphosis.

“Jadi masuk nominasi bagi kami menjadi sebuah kebanggaan bahkan berturut-turut,” ucapnya.

Namun katanya, Frizth mengakui masuk nominasi tidak semudah membalikkan telapak tangan. 

“AMI itu membuka peluang bagi mereka yang ingin lagunya itu masuk dalam nominasi dan kami melakukan sejak tahun 2016,” terangnya.

Frizth juga berharap skena metal tetap hidup di Indonesia dan tidak dipandang sebelah mata.

“Semoga skena metal tetap hidup dan mampu diterima,” pungkasnya.

Lepaskan Manifesto Optimisme Pada Debut EP WUSS

Categories: Music

Share
Setelah merilis lead single “Lunar” beberapa waktu lalu, akhirnya band indie rock asal Malang, WUSS resmi merilis EP perdana mereka yang berjudul “We Undercover Super Softy”. EP ini adalah manifestasi langkah besar pertama bagi Sabiella Maris (gitar, vokal), Brilyan Prathama (gitar, vokal), Rara Harumi (bass, vokal), dan Rufa Hidayat (drum) dalam memperkenalkan karakteristik epik ditiap lagu dan merangkul pendengar untuk terjun ke dalam vibrasi indie rock energik namun harmonis.

Tema dan narasi EP 

“We Undercover Super Softy” menghadirkan lima lagu yang masing-masing menggambarkan pengalaman hidup sehari-hari, tentang cinta, kesedihan, hingga perasaan yang tidak menentu. Isyaratkan pesan-pesan optimis dan inspiratif agar pendengarnya selalu bangkit dalam melanjutkan hidup disetiap tantangan kehidupan yang silih berganti.

"Dalam lirik-lirik kami, selalu ada secercah harapan di akhir seperti pengingat bahwa kita semua bisa kembali bangkit dan menjalani hidup dengan lebih baik." kuak Sabiella.

Kolaborasi dengan Dandy “Much”

Hal menarik pada EP ini ada pada lagu “Cast Shadow Over“, menampilkan spesial kolaborasi bersama Dandy Gilang (Much, Write The Future, Linger). 

Lagu ini memadukan karakter vokalis Dandy dengan melodi dan harmonisasi dari WUSS, bersama mereka menciptakan suatu legacy yang catchy serta diharapkan melekat di hati dan telinga para pendengarnya.

Ulasan Track List “We Undercover Super Softy” Dan Proses Kreatifnya

Ada lima komposisi lagu yang dituangkan pada “We Undercover Super Softy” yang merupakan paduan overdrive manis dengan dinamika indie rock fuzzy dengan timbre suara khas sang vokalis yang saling melengkapi. Melodi gitar cenderung repetitif namun harmonis ditiap lapisan nada yang berhasil membangun atmosfer melankolis sekaligus uplifting sesuai dengan lirik-liriknya inspiratifnya. Dengan tempo drum yang mampu mengundang audiens untuk sing along hingga melakukan stage diving.

Untuk track list sendiri— “Lunar” merupakan yang pertama dilepas, “Cast Shadow Over feat Dandy Gilang”, “Heavy Heart”, “Smitten with (someone), yang terakhir adalah “Firm” yang sangat pas sebagai hidangan penutup. 

Proses kreatif pada EP ini berlangsung di Griffin Recording Studio, dengan Satrio “Ayok” Utomo (SFHC) bertindak sebagai sound engineer serta menangani mixing juga mastering. Untuk lirik lagu diracik sendiri oleh Sabiela Maris. Kemudian song composed dilakukan Brilyan Prathama bersama Sabiella Maris.

“Kami berkolaborasi erat dengan Mas Ayok  untuk memastikan setiap elemen suara yang kami inginkan terdengar jelas dan kuat,” tambah Brilyan meyakinkan.

Sedangkan cover untuk EP—Sabiella menjelaskan, bahwa artworknya bekerja sama dengan seniman Farhan Endy dari Conbini ini menampilkan gambar kucing sebagai simbol utama. 

"Kucing sering kali dikaitkan dengan keberuntungan dan filosofi kehidupan. Kami ingin membawa unsur itu ke dalam EP ini, semoga kita juga jadi lebih beruntung!" ungkapnya semangat.

Lekas dengarkan EP “We Undercover Super Softy” milik Wuss di semua DSP. Yang telah dirilis sejak 15 November 2024 lalu oleh Haum Entertainment. Super damn lit! (INQ)

List Contact Wuss

Tel/WA: 081216732645 - Brilyan
Email: wusssssofficial@gmail.com
Instagram : @everybodywuss
Press (Haum Entertainment) : +62 857-3098-2981 / @haumentertainment

Band Emo Asal Jombang, Fiore Rilis Single Bertemakan Kisah Antiklimaks Dramatis

Categories: Music

Share
Fiore, unit emo jagoan Jombang tersebut kembali merilis single terbaru “When The Seasons Change” dua tahun setelah album perdana mereka “Tell A Story” yang rilis 2022 lalu dan single “Termala” pada 2023. Fajar Ikhsani (Vocal/Guitar), Tomy DC (Guitar), Dhani (Guitar), Afandi Bakir (Vocal/Bass), Umar Faruq (Drum) kembali menyelami tema depresif dalam lagu ini. Namun, kali ini bukan dari perspektif sepasang kekasih namun dari perspektif keluarga muda. 

Single “When The Seasons Change” ini bertema kisah antiklimaks dramatis yang awalnya penuh harapan namun berakhir duka di mana harapan-harapan yang banyak tadi kini tersisa tinggal satu dan harus dijaga dengan baik. Kisah ini juga terinspirasi dari pengalaman teman dekat dari Fiore.

“Kisah ini berawal ketika pasangan suami istri muda mulai mendapatkan harapan mereka satu-persatu terwujud. Namun, ketika sang suami berharap menjalani cita-cita bersama, ternyata sang istri tidak bisa ikut menemani karena meninggal setelah melahirkan,” kuak Faruq.

Artwork dari single “When The Seasons Change” visualisasikan kisah lagu tersebut, dengan bunga-bunga bertebaran di antara sosok laki-laki dan anak kecil.

“Salah satu harapan pasangan tersebut tergambar di dalam artwork sebagai bunga-bunga yang bertebaran yang mencerminkan harapan-harapan yang telah mekar, dan harapan terbesarnya  adalah anak,” lanjut Faruq

Single “When The Seasons Change” yang terpilih sebagai single jagoan untuk album mendatang dari Fiore ini juga adalah track terakhir dari album tersebut. Dengan pendekatan musikal berbeda, kali ini Fiore menambah nuansa nelangsa lagu tersebut dengan sebuah ending antiklimaks. 

“Single ini juga banyak elemen repetisi, part yang diulang-ulang terus, yang menggambarkan selama perjalanan, diharapkan rutinitasnya berakhir bahagia, ternyata antiklimaks,” tutur Faruq.

Proses produksi “When the Seasons Change” dimulai pada April 2024, bersamaan dengan produksi lagu-lagu yang lain yang akan hadir di EP mendatang. Single ini diproduksi oleh Fiore dengan lirik ditulis oleh sang vokalis Fajar Ikhsani, direkam oleh  Fajar Ikhsani, Yudysfianda di MDuabelas Studio (@mduabelasstudio_). Untuk sound engineer yang meracik mixing dan mastering lagu ini, Fiore memilih Winaldy Senna kemudian untuk pengerjaan Artwork album mereka mempercayakan goresan kepada @Every.day.hate.

Bagi penikmat musik emo yang juga menyukai 2nd wave emo ala The Gloria Record, Mineral atau Elliott ataupun penggemar Last Child, single ini wajib dimasukkan kedalam daftar playlist. “When The Seasons Change” telah dilepaskan di semua platform official Fiore sejak tanggal 31 Oktober 2024. Yeah! Congratulation sudah membuat lagu yang sekonyong-konyong bisa merobek kantung air mata.(INQ)