INSYFEST 2025: The Jeblogs yang Menggila dan Malam Tanpa Akhir dengan Lantunan 'Bersandarlah’

Categories: Collaboration

Share
Langit di hari Minggu, 26 Oktober sore itu di Halaman parkir Universitas Buana Perjuangan (UBP) Karawang sudah menunjukkan ancaman rintik hujan seperti hari-hari sebelumnya yang kini memasuki musim penghujan. Tapi tetap tidak menyurutkan energi ratusan massa penonton untuk menikmati berbagai sajian hiburan yang disiapkan oleh panitia pelaksana. 

INSYFEST 2025 also known as Information System Fest 2025 begitulah mereka menamainya. Sebuah festival yang sejak pagi sudah ramai oleh hiruk-pikuk bazaar UMKM, pesona motor klasik, dan keceriaan di photo booth. Semua tertata, semua teratur. Penonton antre dengan tertib, panitia sibuk lalu-lalang dengan walkie talkie di tangan. Sebuah pemandangan yang tenang dan terencana.

Tapi kita semua tahu, acara yang benar-benar berkesan seringkali tidak lahir dari keteraturan sempurna. Ia lahir justru dari momen ketika keteraturan itu nyaris runtuh dan yang tersisa adalah raw emosi yang meluap. Dan luapan itu bernama The Jeblogs.

Sebelum kita bahas kekacauan yang meriah itu, mari beri penghormatan pada para panitia dari Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi (HIMASI) UBP Karawang bersama para sponsorship. Sang Ketua Pelaksana, Tara Abizar menyampaikan bahwasanya kegiatan tersebut merupakan wadah pengembangan diri mahasiswa dalam hal manajemen event yang seluruhnya adalah teamwork dari HIMASI UBP. Sebelumnya juga INSYFEST 2025 telah mengadakan beberapa kompetisi hingga Seminar Nasional yang membahas tentang Digital Talent di Era Industri 5.0 sebagai bagian dari rangkaian acaranya.

Panggung INSYFEST 2025 sejak siang telah dihangatkan oleh performa solid sejumlah band tuan rumah UBP bersama irama menggugah dari The Black Gardens, DPRTY band, The Oldest, dan Taksanada yang merupakan band asal Karawang yang cukup dikenal saat ini. Tak kalah memukau, gelaran pertunjukan tari tradisional dan modern dance dari UKM Seni Budaya UBP turut meramaikan panggung dengan menyuguhkan sisi lain dari kreativitas seni mahasiswa yang tampil pada hari itu. Semuanya berjalan aman bahkan keteraturan yang nyaris sempurna tanpa cela.

Namun, segala keteraturan itu seketika berubah menjadi euforia yang chaotic disaat Amir M (vokal), Valentino Mahoni (gitar), Dani Ardian (drum), Ryan Ramadhan (bass), dan Febrianto Prima (gitar) mulai terlihat naik ke panggung. Suasana yang sebelumnya tenang tiba-tiba bertransformasi menjadi liar tanpa komando. Yep, panggung kali ini bukan lagi sekadar panggung, melainkan arena para sisifus untuk ikut bernostalgila bersama The Jeblogs.

Dari lagu pembuka instrumental "Menari Resah" dan "Berantakan", kekacauan yang tak diharapkan pun dimulai. Beberapa penonton mulai nekat berdiri di atas barikade sambil membentangkan spanduk “The Jeblogs”. Barikade itu sendiri nyaris roboh diterjang desakan massa yang tak kuasa menahan diri. Para panitia yang tadinya terlihat santun, tiba-tiba berubah menjadi pahlawan tanpa tanda jasa yang berjibaku menahan benteng pertahanan terakhir itu agar tetap berdiri. Inilah puncak dari "pengembangan diri" yang disampaikan sang ketua panitia dalam hal manajemen event. Salah satunya belajar menghadapi racaunya pesta.

The Jeblogs ternyata baru pertama kali menginjakkan kakinya di Karawang dan memberikan kesan yang dalam walau hanya sebentar. Tapi bukan sekadar main, lalu pergi. Mereka memimpin ritual dari setiap lagu yang sebagian besar dari album "Sambutlah" dan dinyanyikan kembali oleh para penonton sebagaimana kumpulan mantra-mantra kolektif. 

Lirik-lirik puitis mereka bukan lagi milik sang vokalis, tapi sudah menjadi milik bersama. Dan ketika anthem "Bersandarlah" mengalun, malam itu seakan enggan berakhir. Bahkan setelah panggung meredup, lagu itu masih berkumandang liar di tengah kerumunan. Sebuah fenomena yang membuktikan bahwa pertunjukan memang sudah usai, tapi kesan dan makna lagunya masih tersisa.

Pada obrolan singkat setelah manggung, ada momen filosofis yang menarik ketika ditanya tentang makna lain dari "The Jeblogs", Amir sang vokalis menjawabnya ibarat seperti tanah basah yang subur. Sebuah harapan yang selalu ingin mereka wujudkan dengan menjadi ‘lahan’ yang bermanfaat bagi siapa saja. RESPECT!

Ryan sang bassis turut menanggapi pertanyaan tentang rencana kedepannya bahwasanya untuk album The Jeblogs selanjutnya semoga akan hadir pada tahun depan yang saat ini masih dalam tahap pengumpulan materi selain dari single yang telah mereka rilis beberapa waktu lalu yaitu,

“Sekian, Terima Kasih (feat. Lealona)”.

“Mohon doanya ya teman-teman biar cepet terlaksana rilis albumnya...” ucap Ryan. 

Pada akhirnya malam itu di Karawang, bersama filosofi The Jeblogs seakan menjadi nyata. HIMASI UBP menyediakan lahannya melalui INSYFEST 2025. The Jeblogs datang sebagai hujan yang menyuburkan. Dan para mahasiswa adalah tunas-tunas yang sedang dewasa, tumbuh meriah, bersenandung dan sedikit liar menerjang barikade.
Sebuah kombinasi yang akan dikenang sebagai salah satu episode terbaik dalam memori kuliah mereka.

“Sampaikan salam kami
Kepada bulan dan bintang
Oh tenang saja,
Generasi baru telah tiba...”

-Sambutlah by The Jeblogs-
(INQ)

Nitatadi Hidupkan Kembali Keajaiban Harmoni Lewat “Masih Ada”, Kini Lebih Fresh dan Groovy

Categories: Music

Share
Dunia musik Indonesia kembali disapa kehangatan harmoni dari Nitatadi, grup vokal berisi empat legenda: Ronni Waluya, Rita Effendy, Netta Kusumah Dewi, dan Hedi Yunus. Setelah lama tak muncul bersama, keempatnya kembali dengan single terbaru berjudul “Masih Ada” — sebuah karya yang menghidupkan kembali pesona klasik dengan sentuhan aransemen yang lebih fresh dan groovy.

Lagu “Masih Ada” merupakan karya legendaris dari duo ikonik 2D (Deddy Dhukun & Dian Pramana Putra) yang kali ini diinterpretasikan ulang oleh Nitatadi. Setelah sukses merilis “Kawan” dan “Dunia Cinta”, keempat vokalis ini kembali memadukan harmoni khas mereka dalam warna musik pop-balada yang lembut, berpadu dengan groove modern yang membuat lagu ini terasa hidup dan relevan untuk generasi zaman now.

“Lagu Masih Ada bercerita tentang keyakinan bahwa selalu ada harapan di setiap kesulitan. Kami ingin menghadirkan semangat positif bagi siapa pun yang mendengarkannya.” ujar Hedi Yunus. 

Sementara itu, Rita Effendy menuturkan, 

“Proses rekamannya penuh nostalgia, tapi juga jadi momen yang sangat emosional karena kami semua merasa kembali ke akar musikal kami.”

Dengan aransemen yang lebih segar dan nuansa groove yang ringan, “Masih Ada” menghadirkan pengalaman mendengar yang menenangkan sekaligus membangkitkan semangat. Lagu ini menjadi simbol perjalanan lintas generasi dan bukti bahwa harmoni sejati tak lekang oleh waktu.

Single “Masih Ada” resmi dirilis pada hari ini, 31 Oktober 2025 di seluruh platform digital, bersama dengan video musiknya akan tayang di kanal Geronimo Records serta official kanal Youtube milik mereka. Visualnya sederhana namun sarat maknanya memperkuat pesan bahwa musik berkualitas dan persahabatan sejati akan selalu hidup di hati siapapun yang mendengarkan. Congratulations! (INQ)

Knucklechain dan Monumen Amarah Bernama "A King to Nothing"

Categories: Music

Share
Bayangkan sebuah palu godam yang diayunkan tepat ke telinga bersamaan dengan kebisingan mesin chainsaw industri yang menggilas besi tua dibungkus kuat kemarahan yang begitu personal sambil bergoyang two step ala sentimental Groovy Beatdown Hardcore. Seperti itulah kira-kira pengalaman pertamamu ketika mendengar debut album Knucklechain, "A King to Nothing".

Knucklechain, unit metallic hardcore beatdown asal Yogyakarta ini tidak main-main dalam menggarap album debutnya. Setelah sekian lama bergaung di bawah tanah, mereka akhirnya meluncurkan album perdana yang bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan sebuah manifesto. Sebuah album penuh teriakan ditengah pesta pora kehancuran dunia.

Album yang diproduseri oleh Bugis Putra punya premis yang ambisius yakni sebuah refleksi tentang manusia yang diberi mandat sebagai "penguasa" di bumi, tapi justru menjadikannya puing-puing tanpa masa depan. Kita adalah raja sebenarnya yang tak punya kerajaan, pemimpin yang gagal memimpin dirinya sendiri dan rakyatnya.  "A King to Nothing" adalah judul yang sinis dan pas.

Secara musikal, Knucklechain tidak menawarkan kompromi dan memang sengaja album ini dirancang untuk menghancurkan. Riff gitar Aziz dan Reza berat, kotor, dan menggerus seperti gerinda tanpa ampun. Betotan Bass Priayang berpacu dengan gebukan drum Andjas cepat, tajam, dan meledak-ledak bagai rentetan tembakan. Dan di atas semua itu, ada vokal Bintang yang bukan sekadar menyanyi, melainkan meneriakkan mantra-mantra keputusasaan. Suaranya mencabik, penuh sakit, seolah ia adalah juru bicara dari semua kekecewaan yang terpendam.

Lagu seperti "Bring you to hell" yang menampilkan Nvndtgr adalah puncak dari kemarahan itu.  Bagaikan kutukan yang dilantangkan langsung untuk para penguasa dan penindas. 

Namun, dibalik teriakan itu ada sebuah pengakuan yang jujur seperti yang tersirat dalam press releasenya, kemarahan ini bukan hanya untuk "mereka", tapi juga untuk "kita", untuk "aku", dan untuk diri Knucklechain sendiri. Ada elemen introspeksi yang membuat amarah mereka terasa lebih dalam dan tidak sekadar latah pada album ini.

Menariknya, Knucklechain tidak hanya merilis album. Mereka langsung membungkusnya dengan tur promo bertajuk, "90° FATAL OVERHEAT". Sebuah tema perjalanan yang menggambarkan situasi dimana mesin-mesin kemanusiaan yang sudah kegerahan dan bersiap untuk meledak!!! Jadwal tur mereka akan menjangkau Jakarta hingga Bali, dari Oktober hingga Desember 2025 adalah bukti keseriusan Knucklechain membawa "monumen amarah" ini langsung kehadapan penikmatnya. 

Bayangkan kekacauan dan kebrutalan di lantai moshpit ketika lagu-lagu ini mulai bergema keras. Karena itu bukan lagi sekadar panggung, melainkan sebuah ruang emosi diantara celah kegelapan.

"A King to Nothing" adalah album untuk mereka yang pernah merasa muak, frustasi, dan terasingkan di dunianya sendiri. Knucklechain berhasil mengubah perasaan-perasaan negatif itu menjadi 9 tracks lagu penuh energi yang jujur, brutal tapi agak mengerikan.

Pada akhirnya, album ini adalah pengingat dibalik segala ilusi kuasa dan kontrol kita semua, pada akhirnya, hanyalah A King to Nothing

Overall, Knucklechain berani membisikkan distorsi keras ke telinga kita. Hellyeah!

"A King to Nothing" sudah dapat di-streaming di Spotify. Ikuti perjalanan chaos mereka di Instagram @knucklechain__  Congratulations! (INQ)