BINGAR. Rilis “Di 25 (Sebenar-benarnya Dunia Segera Tiba)”, Potret Kegelisahan di Titik Balik Usia

Categories: Music

Share
Bingar. kembali merilis single terbaru berjudul “Di 25 (Sebenar-benarnya Dunia Segera Tiba)”, sebuah lagu yang merekam isi hati dan pikiran ketika seseorang tiba di usia yang sering terasa seperti titik balik dalam hidup. Di usia ini, waktu seolah berjalan lebih cepat, sementara cita-cita dan cinta yang dulu terasa dekat justru belum sepenuhnya terkejar. Di saat yang sama, dunia perlahan mulai menunjukkan wajah aslinya.

Single yang lahir dari refleksi sederhana tentang perjalanan hidup, tentang apa yang sudah ditempuh, apa yang perlahan menjauh, serta apa yang masih berusaha dijaga meski tidak selalu berada di tempat yang sama. Melalui lagu ini, Bingar. mencoba menggambarkan fase persinggahan dalam kehidupan, sebuah ruang diantara awal kehidupan yang terasa bak babak akhir.

Lewat lirik yang lugas dengan karakter khas Bingar., lagu ini menghadirkan rasa gelisah yang berjalan berdampingan dengan penerimaan. Salah satu penggalan liriknya berbunyi, 

“Kita sampai di 25… sebenar-benarnya dunia segera tiba.” 

Sebuah kalimat sederhana yang mengingatkan pengingat bahwa pada akhirnya, setiap orang akan sampai pada fase ketika realitas mulai terasa semakin nyata.

Secara musikal, “Di 25 (Sebenar-benarnya Dunia Segera Tiba)” tetap mempertahankan warna anthemic indie rockyang menjadi identitas Bingar. Namun kali ini, pendekatan aransemen terasa sedikit lebih ditahan. Nuansa yang lebih tenang memberi ruang bagi pendengar untuk menyelami emosi di dalam lagu, seolah mengikuti tempo hidup yang mulai melambat dan terasa lebih reflektif.

Tidak hanya dari sisi musik, narasi lagu ini juga diperkuat melalui artwork yang merepresentasikan konsep “pertikaian diri.” Bingar. meyakini bahwa di usia 25 tahun, konflik yang paling sunyi justru sering terjadi di dalam diri sendiri. Pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan: 

apakah semua yang sudah dilakukan selama ini benar atau justru keliru? Haruskah perjalanan ini dilanjutkan, atau berhenti sebelum semuanya terasa semakin jauh?”

Dalam fase ini, ego ingin membuktikan bahwa kita mampu dan tidak tertinggal. Di sisi lain, idealisme terus mengingatkan pada mimpi-mimpi lama yang dulu terasa begitu yakin. Sementara realitas berdiri dingin dengan tanggung jawab dan batas yang tak bisa diabaikan. Ketiganya seperti saling tarik-menarik tanpa jeda.

Usia 20 terasa sudah cukup jauh untuk sekadar disesali, sementara usia 30 seolah tinggal satu kedipan mata lagi. Akibatnya, setiap keputusan terasa lebih berat dan mendesak seolah waktu yang dulu terasa luas kini mulai semakin padat.

Di tengah kekacauan itu, yang tersisa hanyalah pertanyaan sederhana namun menyesakkan: 

sekarang atau tidak sama sekali? 

Apakah harus terus melangkah dengan segala risikonya, atau berhenti dengan kemungkinan penyesalan yang akan datang kemudian?

Single “Di 25 (Sebenar-benarnya Dunia Segera Tiba)” resmi tersedia di seluruh platform streaming digital mulai 27 Februari 2026. Melalui lagu ini, Bingar. menghadirkan potret realitas tentang sebuah usia yang sering terasa sunyi namun diam-diam penuh dengan pergulatan paling nyata dalam kepala. (INQ)

“Forever Still” dan Cara REVIND Memeluk Duka Tanpa Banyak Kata

Categories: Music

Share
Band metalcore asal Jawa Timur, REVIND, kembali merilis karya terbaru berjudul “Forever Still”, sebuah single yang terasa lebih deep dibandingkan rilisan mereka sebelumnya. Dirilis pada 26 Februari 2026, lagu ini menjadi salah satu karya paling emosional yang pernah mereka lepaskan. Sebuah elegi sunyi tentang kehilangan, cinta yang tertinggal, dan kenangan yang terus hidup bahkan setelah seseorang tiada.

“Forever Still” berangkat dari cerita tentang seseorang yang harus menerima kenyataan ketika orang yang paling ia cintai telah pergi untuk selamanya. Menyayat hati lewat bait liriknya,

 “Still I see your face every time I close my eyes,”
“You’re forever still in my heart
.”

REVIND mencoba menggambarkan bagaimana duka tak pernah benar-benar hilang dan hanya berubah bentuk, tinggal sebagai luka yang terus menganga dalam ingatan.

Secara musikal, lagu ini tetap berdiri di atas fondasi metalcore yang ganas dan agresif. Riff gitar yang berat berpadu dengan atmosfer melankolis, menciptakan ruang emosional yang kuat bagi pendengar. Digempur breakdown yang intens hadir berdampingan dengan bagian melodik yang lebih sendu, membawa dinamika yang membuat lagu ini terasa seperti perjalanan sunyi, kemarahan, hingga perlahan menuju penerimaan.

Tekanan emosional juga terasa kuat pada vokal yang disajikan. Setiap bait terdengar seperti upaya menahan kehilangan yang terlalu besar untuk dijelaskan sepenuhnya dengan kata-kata. Lirik seperti :

 “Flowers laid out to you, heaven is waiting for you,”

bak menjadi simbol perpisahan terakhir dalam menelan sebuah kepahitan yang harus diterima.

REVIND sendiri bukan nama baru di skena metalcore Indonesia. Band asal Jawa Timur ini telah terbentuk sejak tahun 2007 dan memiliki perjalanan hampir dua dekade di dunia musik independen. Selama itu, mereka telah tampil di lebih dari 50 panggung di berbagai kota di Jawa hingga Bali, dikenal lewat performa yang energik serta memiliki karakter.

Ciri khas REVIND terletak pada perpaduan agresivitas metalcore dengan pendekatan lirik yang reflektif. Riff gitar yang berat dan sound yang gahar menjadi fondasi utama musik mereka, sementara tema-tema emosional sering muncul dalam penulisan lagu mereka. Kombinasi tersebut membuat mereka perlahan membangun basis penggemar yang loyal di berbagai kota.

Saat ini REVIND diperkuat oleh Riza Novandra pada vokal, Aris Wahyudianto pada bass, Awang Pratama dan Eka Ari Kurnia Putra pada gitar sekaligus vokal latar, serta Edwin Satrio Prabowo di balik drum. Bersama formasi ini, mereka terus menghadirkan energi metalcore sesuai pakem mereka.

Lewat “Forever Still”, REVIND memperlihatkan kedewasaan dalam penulisan lagu dan produksi.
Dengarka single “Forever Still” yang telah tersedia di seluruh platform digital streaming sejak 26 Februari 2026. Hellyeah! (INQ)

PALM TREES & TEBSKY Menertawakan Generasi Stagnasi Lewat “Gojod Bae”

Categories: Music

Share
Dari Tangerang Selatan, unit alternative reggae sound Palm Trees, kembali membawa kabar baik atas perilisan singleterbaru mereka berjudul “Gojod Bae”, kali ini menggandeng Tebsky dalam sebuah kolaborasi yang terasa cukup menarik.

“Gojod Bae” lahir dari fenomena umum dimana generasi muda yang terjebak nyaman dalam narasi stagnasi. Nongkrong tanpa arah, mimpi yang ditunda, langkah yang disitu-situ aja. Istilah “gojod bae” dari keseharian Betawi dipakai sebagai metafora untuk menyentil sikap kehidupan yang pasrah tanpa usaha, gitu-gitu aja. Palm Trees dan Tebsky memilih menertawakannya sambil mengajak kita semua mengarungi gelombang kehidupan bersama.

Di balik lagu ini, ada cerita lama yang dihidupkan kembali. “Gojod Bae” merupakan transformasi sekaligus kelanjutan materi yang dulu tumbuh bersama The Jalu, band asal Jelupang sebuah wilayah dimana menjadi titik awal perjalanan Palm Trees. Dari tanah yang sama, cerita lama itu kini diolah ulang dengan perspektif yang lebih matang, energi yang lebih segar dengan lirik ringan bahasa sehari-hari.

Paradoks menjadi kekuatan utamanya. Keresahan yang tidak dibungkus muram, dilepas dalam gelombang groove “yoman” yang siap menghantam. Suara Aryo dan Tebsky terdengar seperti seruan di tengah keramaian kampung. Kritik sosial positive, bentuk kepedulian dalam bentuk sindiran.

“Gojod Bae” mengingatkan bahwa terlalu lama diam bisa menjadi kebiasaan yang berbahaya.

“Kami ingin menyampaikan keresahan tanpa harus terjebak dalam rasa putus asa. ‘Gojod Bae’ adalah ajakan untuk bergerak,” ujar Palm Trees.

Lewat rilisan ini, Palm Trees memasuki fase baru yang lebih berani namun tetap membumi. Menghormati akar cerita mereka sendiri, tanpa ragu menarik pendengarnya untuk bangkit berdiri. Dengarkan single “Gojod Bae” – Palm Trees feat. Tebsky yang kini telah tersedia di seluruh platform streaming digital favorit kalian fren ! (INQ)