Band rock asal Karawang, OTR (On The Rock) resmi merilis mini album terbaru bertajuk “Roller Coaster : Sound of Sonder”, yang mengangkat konflik emosional dan proses pendewasaan, dengan balutan rock retro dan sentuhan Surf Rock. EP berisi empat lagu ini merangkum perjalanan emosional yang penuh dinamika dari kebingungan dan tekanan batin, hingga proses bertumbuh menuju pendewasaan yang lahir dari konflik dalam diri.
Melalui rilisan ini, OTR menghadirkan potret perasaan yang kerap sulit diucapkan. “Roller Coaster” merepresentasikan ritme hidup yang bergerak cepat dan tak terduga. Sementara “Sound of Sonder” menyoroti kesadaran sunyi bahwa setiap pengalaman emosional yang dirasakan ternyata juga dialami oleh banyak orang. Dari pemahaman inilah muncul kedekatan dan rasa yang menjadi nafas utama mini album ini.
EP ini menjadi kelanjutan narasi dari single sebelumnya, “Highest Place”. Jika karya terdahulu lebih banyak berbicara tentang harapan, mini album ini hadir dengan pendekatan yang lebih personal, lebih gelap, dan lebih emosional. OTR menyelami sisi rapuh manusia yang menjadi bagian dari proses pendewasaan.
Mini album ini dibuka dengan “Mirror”, sebuah lagu yang mengangkat kegelisahan saat mempertanyakan sikap orang-orang terdekat. Di titik ini muncul kesadaran bahwa konflik kerap menjadi pantulan dari diri sendiri. “Mirror” menjadi gerbang refleksi yang mewarnai keseluruhan perjalanan EP ini.
Berlanjut ke “Sonder”, OTR mengajak pendengar menyelami makna bahwa setiap orang termasuk mereka yang hanya ditemui sepintas,membawa beban dan kompleksitas hidupnya masing-masing. Kesadaran ini melahirkan perasaan ganjil. Dan dalam menghadapi dunia ini kita tidak sendirian.
Track ketiga, “Roller Coaster”, menjadi titik klimaks. Lagu ini menggambarkan fase terendah dalam hidup ketika emosi bergerak naik-turun tak terkendali. Segalanya terasa terlalu berat, pikiran menggelap, dan tubuh seakan menolak untuk terus bertahan. Di sini, OTR menumpahkan kejujuran tentang sulitnya menerima kenyataan terutama ketika luka justru datang dari orang-orang terdekat.
Mini album ditutup dengan “Daydream”, sebuah lagu reflektif yang menandai titik balik. Setelah melewati kekacauan, muncul kesadaran bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya bisa dikendalikan. Saat ekspektasi dilepaskan dan realita diterima, ketenangan perlahan hadir. “Daydream” menjadi penutup hangatdan menjadi penutup yang tenang setelah seluruh konflik yang dilewati.
Dari sisi musikalitas, EP ini menunjukkan eksplorasi baru OTR. Tetap berakar pada karakter rock era 70-an hingga 80-an, OTR memperkaya paletnya dengan sentuhan Surf Rock pada “Sonder” serta Narrative Rock pada “Daydream”. Sementara “Mirror” dan “Roller Coaster” disajikan dengan aransemen yang lebih dinamis untuk memperkuat setiap fase emosi dan cerita yang ingin disampaikan.
Melalui “Roller Coaster : Sound of Sonder”, hadurkan sebuah perjalanan batin tentang konflik yang membentuk kedewasaan dan pengalaman personal. Berangkat dari keinginan untuk memulai segalanya secara profesional, OTR melakukan kolaborasi dengan berbagai rumah produksi. Proses dimulai dengan perekaman instrumen secara mandiri oleh para personel, kemudian berlanjut ke Ec3 Studio untuk rekaman drum. Untuk vokal, OTR menggandeng Broadway Music Production Studio.
Meski di tengah produksi menghadapi berbagai kendala dan revisi, semangat OTR tak pernah padam. Proses mixing dan mastering ditutup manis oleh Kevin Indriawan (personel band Black Horses), memberi sentuhan akhir yang solid dan emosional. OTR pun percaya diri bahwa EP ini akan “mengacaukan” emosi para pendengarnya
Tak hanya pada produksi musik, OTR juga berkolaborasi dalam penggarapan artwork bersama artsurd. Artwork yang dihadirkan penuh dengan palet warna gelap, simbol-simbol yang bertabrakan, serta tipografi tegas. Visual ini menjadi representasi pergolakan emosional yang dituangkan OTR sepanjang EP.
“Lagu-lagu ini lahir dari pengalaman yang sulit diceritakan. Tapi lewat musik, semuanya bisa kami tuangkan. Kami percaya banyak orang di luar sana merasakan hal serupa, dan kami ingin mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian.” Ungkap mereka.
On The Rock (OTR) adalah band asal Karawang dengan genre rock bergaya retro yang enerjik. Nama OTR diambil dari menu signature drink Espresso On The Rock—sederhana, berkarakter, dan merepresentasikan musik mereka yang berdiri di atas akar rock klasik.
OTR beranggotakan Fitrah (vokal), Gilang (bass & backing vocal), Vicky (gitar), dan Wahyu (drum). Berdiri sejak akhir 2020, OTR merilis single perdana “Budak Korporat” pada 2022, yang lahir dari keresahan para pekerja dengan upah minim namun tuntutan kerja maksimal. Pada 2024, OTR merilis “Highest Place”, sebuah kisah tentang harapan dan perjuangan di tengah konflik kehidupan.
Mini album Roller Coaster : Sound of Sonder sudah bisa didengar diseluruh DSP fav kalian fren. Congratulations! (INQ)