Fren sekarang kita ke Kota Pahlawan, Surabaya yang tidak pernah kekurangan talenta khususnya di skena musik underground. Untuk kali ini ada Worker Miriam dari unit alternative emo. Band yang terdiri dari Rizuma (vokal), Fais(gitar), dan Dea (drum) officially telah merilis single pertamanya yang berjudul “THINK ABOUT IT” pada bulan Desember tahun kemarin. Single tersebut hadir dengan mixed up ala Paramore dan sedikit Dashboard Confessional tentunya lebih fresh dengan lirik intim.
Lagu “THINK ABOUT IT” bercerita tentang takdir seseorang yang masih terbelenggu oleh egonya sendiri, hingga akhirnya tersadarkan oleh dorongan lingkungan pergaulannya kini dan sekaligus mengajaknya untuk merefleksikan kembali dampak dari mental yang dulu merusaknya. Sebuah tema yang hingga kinipun masih relevan dengan rakyat skena hari ini dibungkus dengan energi musik clean distortion emo yang lebih banyak berbicara from heart to heart tanpa harus over crying mencaci maki absurdnya diri sendiri.
Proses kreatif single-nya sendiri ternyata tidak semudah penggundulan hutan menjadi ladang sawit, menurut sang vokalis, lagu “THINK ABOUT IT” awalnya adalah hasil eksperimen tanpa tujuan jelas dan butuh waktu tiga bulan untuk akhirnya dirampungkan.
“Cukup struggle sih apalagi dengan kesibukan kita masing-masing saat menggarap single ini, namun akhirnya karya perdana ini dapat kami rampungkan dan kini telah tersaji ke ruang dengar teman-teman semua,” ungkap Rizuma.
Worker Miriam kedepan juga telah merencanakan single ini akan menjadi bagian dari sebuah Extended Play (EP) yang agendanya segera dirilis tahun ini sebagai pembuktian diri untuk terus berkarya dalam mengibarkan kembali bendera musik emo di ranah skena.
“THINK ABOUT IT” kini dapat dinikmati di seluruh platform streaming digital dan official Video Lyricnya juga sudah tayang di kanal Youtube resmi Worker Miriam.
Buat kamu yang kepo dengan band ini, pantengin terus perkembangan Worker Miriam melalui akun Instagram @worker.miriam. (INQ)
Comments
101% HARDCORE VOLUME 3: Silaturahmi Skena HC dan Pesona Moshpit yang Menggila bersama Kick Punch Beatdown Family
D’Arkan Coffee Cikampek menjadi saksi bisu atas gemuruhnya sebuah agenda kolektif DIY (Do It Yourself) bertajuk 101% Hardcore Vol. 3 yang digelar oleh teman-teman dari Kick Punch Beatdown Family (KPBF) pada Sabtu lalu (17/01). Event tersebut menjadi bukti nyata bahwa semangat persatuan antar sesama penikmat musik Hardcore (HC) masih tetap hidup dan berdenyut kuat di Cikampek, Karawang terutama KPBF yang kini telah menginjak usia 11 tahun.
Sebagai bagian dari 101% edisi ketiga, KPBF bisa dibilang cukup berani menghadirkan sajian line up yang benar-benar representing their hardcore community networking. Delapan band pilihan yang berasal dari berbagai penjuru pulau Jawa tampil habis-habisan menguras energi liar para HC Kids sebagai bagian dari ritual breakdown tempo tanpa jeda. Full lineup-nya terdiri dari Weaponized (Indramayu), NotBleed (Bandung), Overhate (Malang), Beneath The Scars(Bandung), People Sweet (Karawang), Dekapila (Malang), Bloom (Bekasi) & End In Pain (Jakarta).
Crowd engagement yang sejak awal sudah mulai merasuk ketika Weaponized band asal Indramayu membuka panggung 101% HC Vol. 3 dengan beberapa lagu andalan milik mereka. Two steps, Windmill, spin kicks dan crowd surfing (you named it) menghiasi lantai moshpit tanpa henti dan spontan langsung terbentuk didepan stage yang sederhana oleh crowd yang didominasi oleh Gen Z. Hampir tidak ada jarak antara band dan para saksi hidup yang hadir saat itu, it’s a true interaction where all mixed up and united. Suasana yang hangat dengan iringan distorsi beatdown punk dan caci maki seakan menjadi bahasa universal tentang HC is not about hustle alone but its about surviving together all at once. The Pain in You is The Pain Indeed !
Setlist setiap band terasa padat dan penuh intensitas. Hampir tidak ada waktu untuk filler tracks, hanya hard-hitting power chords dan discharge drum beats yang terus menggema sebagai anthem moshpit. Beberapa band menonjolkan two-step parts seperti yang dilakukan oleh sang vokalis NotBleed yang menggiring penonton untuk bergerak bebas terus menerus, sementara personil yang lain udah tenggelam pada heavy breakdowns dalam beat yang sama.
Over Hate from Malang juga tidak mau ketinggalan momen dengan mengeluarkan jurus beatdown-nya seperti pada single“Eternal Peace” yang soundnya terdengar masih mentah namun memberikan efek samping headbanging. Merekapun memberikan kesan mistis pada penampilan mereka dengan membakar dupa sebagai salah satu bentuk ritualnya. Respect!
Beneath The Scars yang baru merilis single “Blood Funeral” juga ikut menghiasi lantai dansa 101% HC Vol. 3 dengan karakter sound HC yang sedikit berbeda namun tetap enerjik. Once again their power controlled the stage on blast. Kabarnya mereka juga pernah ikut meramaikan 101% HC Vol. 2 yang diadakan pada 2024 lalu.
Tidak berselang lama, salah satu kebanggaan Kota Karawang, People Sweet mengambil alih stage dengan 100% powerful energy membawakan koleksi single mereka termasuk yang terbaru yaitu “Parade Ego” yang baru aja rilis di sosial media. Mereka tampil habis-habisan pada malam itu dengan karakter hardcore screamo yang sudah menjadi ciri khas People Sweet, walaupun mungkin ada yang meragukan kalo People Sweet itu bukan hardcore tapi secara musikal they’re absolutely Hardcore As F**k. No doubt about it! People Sweet juga sering support band dan ikutan gigs lokal sebagai bagian tak terpisahkan dari akar musik mereka yang juga berasal dari komunitas musisi Karawang yang telah terjalin sejak 2015 silam. Go Ahead People Sweet !
Rupanya dinginnya malam dan hujan deras tak membuat stage dan moshpit 101% HC Vol. 3 melemah, malah semakin panas membara ketika perwakilan band asal Malang City, Dekapila is taking control the crowd and started to kicking their ass ! Kombinasi Vokal growl dan beat breakdown HC seperti pada lagu “The City Suffers Under Greed” adalah salah satu keunikan band ini. Wajar jika kehadiran mereka malam itu sangat dinantikan oleh para HC Kids sebagai pengiring yang sangat pas untuk ber-windmill ria dan bergaya two step dan pecahkan konsentrasi massa yang terkena tendangan mesra ala capoeira tanpa target.
Next, another broken beatdown HC from Bekasi yaitu BLOOM menginvasi crowd dengan sound distorsi yang cukup brightala Hatebreed dan throat screaming yang memilukan dari seorang Ayup, sang frontman wanita beringas semakin membuat situasi menjadi tidak terkontrol dan sedikit membuat panik karena crowds on the dance floor saling bergesekan dan tidak sedikit yang terkena salam pramuka dari para uncontrolled human. Oh iya, mereka juga baru saja merilis Maxi Singles “Demonic” yang bisa kalian cek di situs Bandcamp-nya.
End In Pain sebagai pamungkas malam 101% HC Vol. 3 menjadi pusat perhatian yang amat sulit untuk dilepaskan begitu saja walaupun hujan deras semakin menunjukkan kuasanya pada malam itu. Down tempo disertai beat drumold skool dan vokal pig squeal membersamai kehangatan massa pencinta HC dan Metal garis keras. Tidak ketinggalan kombinasi slamming dance dan spinning kicks mewarnai penampilan End in Pain waktu itu. End in Pain mengakhirinya dengan indah without painand revenge dengan berpesan,
“Tetap berkarya, jangan pernah ada Gap diantara kalian, jangan mencuri dan merugikan Orang lain.” Ucapnya bersemangat.
Seorang sosok berkacamata yang sering mondar-mandir disekitar venue bernama Aldiva, selaku penanggung jawab event 101% Hardcore yang juga merupakan ketua dari KPBF menyampaikan bahwa event ini merupakan agenda tahunan Kick Punch Beatdown Family (KPBF) yang sudah bergulir sejak 2023 yang bertujuan sebagai ajang silaturahmi antar sesama komunitas HC yang berada dari luar Cikampek dan sekitarnya. Kegiatan ini adalah merupakan komitmen kolektif dari semua anggota KBPF sejak Volume 1. Adapun pada Vol. 3 baru kerjasama dengan sponsor lokal karena ada tambahan jumlah penampil band dibandingkan pada Volume sebelumnya. Adapun persiapan eventnya terbilang singkat yang hanya butuh waktu sekitar sebulan hingga hari H.
“Kami berharap agar di Cikampek diperbanyak event-event seperti ini sebagai ajang ekspresi diri sekaligus sebagai media informasi antar komunitas terutama di Cikampek dan Karawang. Khusus untuk KPBF sendiri semoga jalinan kita semakin kuat sebagai keluarga besar, bukan hanya sekedar komunitas saja.”
Aldiva juga menambahkan jika masih memungkinkan berencana akan kembali membuat event serupa di Cikampek pada tahun ini dengan mengundang band Kosmic HC yang berasal dari Negeri Jiran, Malaysia dan ZIP dari Jakarta.
Kedepannya KBPF juga akan mencoba aktifitas lain sebagai bagian dari support event yang akan mereka laksanakan nantinya.
Overall, gigs lokal seperti ini patut diacungi dua jempol besar karena dengan budget terbatas tapi mampu menghadirkan line up yang cukup pamor, sound system yang mumpuni dalam, time management yang terjaga, crowd control yang senantiasa saling mengingatkan ketika terjadi pergesekan di depan panggung, hingga vibes positif duo MC Agap & Bogel yang terjalin dengan para penonton sejak awal acara. Hal tersebut bertujuan agar esensi dasarnya sebagai ajang silaturahmi dapat terus berlangsung dengan baik di skena Hardcore atau di skena lain dimasa mendatang.
Sampai jumpa di Volume Selanjutnya, Semoga KPBF lebih kompak lagi dan terus bikin gigs seru lagi yak. STAY TRUE, STAY HARDCORE! (INQ)
Comments
kick punch beatdown
•
2 months ago
respect 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
DEVOTIONS Perkenalkan “DISTOPIA”Album Death Metal Penuh Amarah, Visualiasi Kiamat dan Kekacauan
Unit death metal asal Bali–Jawa, Devotions resmi memperkenalkan album penuh terbaru mereka bertajuk “Distopia”. Album ini menjadi pernyataan Devotions bak sebuah ledakan musikal yang menyatukan agresi ekstrem dengan narasi tentang kehancuran peradaban, kontrol sosial, dan arah dunia yang kian kehilangan arahnya.
Album ini dirancang sebagai satu kesatuan konsep yang merefleksikan kegelisahan Devotions terhadap realitas modern saat inu. Dunia yang dipenuhi ambisi, teknologi tanpa etika, dan kekerasan sistemik menjadi bahan bakar utama yang mendorong kemarahan dalam setiap komposisinya.
Visualisasi Kiamat dan Kekacauan
Judul“Distopia” menemukan perwujudannya secara utuh lewat artwork album. Visual utama menampilkan sosok entitas raksasa yang bangkit di tengah kota yang hancur dilalap api. Sebuah metafora tentang kekuatan destruktif yang lahir dari keserakahan manusia itu sendiri. Reruntuhan, api, dan skala kehancuran yang masif menjadi simbol runtuhnya nilai, moral, dan harapan di tengah peradaban yang merasa paling maju.
Pendekatan visual ini selaras dengan lirik-lirik Devotions yang tajam dan nihilistik. Tak ada romantisasi agaknya, yang ada hanyalah potret dunia yang berjalan menuju akhir karena pilihannya sendiri.
Evolusi Musikalitas yang Lebih Brutal
Secara musikal, “Distopia” menandai fase pendewasaan Devotions tanpa mengorbankan kebrutalan. Album ini memperluas spektrum death metal mereka dengan komposisi yang lebih kaya, agresif, dan lebih terstruktur.
Riff-riff gitar yang invasif menggabungkan kecepatan old-school death metal dengan bobot modern yang pekat. Dentuman drum bergerak presisi dan destruktif melalui blast beat yang agresif serta pola ritmik yang menghantam tanpa ampun. Vokal hadir sebagai medium amarah murni, mempertegas atmosfer apokaliptik yang menyelimuti album ini.
Secara tematik, Devotions mengangkat isu kontrol sosial seperti kehancuran moral, runtuhnya pedoman hidup, hingga sisi tergelap kemajuan teknologi. Semuanya dibalut dengan ekstrem dan konfrontatif.
“Distopia adalah kemarahan kami terhadap arah dunia saat ini. Ini bukan sekadar album musik, ini adalah soundtrack bagi akhir zaman yang kita ciptakan sendiri,” ujar perwakilan dari Devotions.
Pernyataan Posisi Devotions
Sebagai kuartet yang tumbuh dari skena underground, Devotions dikenal konsisten merilis karya dengan raw energy dan identitas yang kuat. “Distopia” menjadi tonggak penting dalam perjalanan mereka di peta musik ekstrem Indonesia.
Dengan konsep matang, produksi solid, serta visi artistik yang jelas, “Distopia” mempertegas Devotions sebagai unit death metal yang patut diwaspadai. Album ini berdiri sebagai pengingat bahwa di tengah dunia yang kian rusak, kemarahan masih bisa menjadi bentuk kejujuran paling jujur.
Melalui Distopia, Devotions mengajak pendengar untuk masuk ke dalam lanskap kehancuran yang mereka bangunl untuk merasakan tekanan, amarah, dan kegelisahan yang lahir dari realitas dunia hari ini. Album ini telah tersedia dan siap diperdengarkan dengan volume maksimal dan tanpa kompromi. Hellyeah! (INQ)