“Perfidious” Gugatan REIWA Atas Pengkhianatan Sang Pengendali Kuasa

Categories: Music

Share
REIWA kembali menegaskan sikapnya lewat single terbaru bertajuk “Perfidious.” Sebuah judul yang diambil dari istilah dalam kamus Oxford yang berarti “pengkhianat”. Ditangan Reiwa, kata ini menjelma menjadi simbol kemarahan kolektif atas kepercayaan yang dirusak oleh mereka yang memegang kendali kuasa.

Lewat “Perfidious”, Reiwa memotret sosok pemegang mandat yang justru mencederai amanahnya. Lagu ini menjadi refleksi atas figur-figur yang secara sistematis melakukan kelalaian berulang yang pada akhirnya pengkhianatan terasa seperti rutinitas yang dinormalisasi. Dalam fenomena sosial yang sarat kompromi, Reiwa memilih untuk tidak diam.

Secara atmosfer, “Perfidious” dibangun dengan nuansa geram sekaligus muram. Emosi yang mengendap terasa seperti bara yang siap menyala lewat pesan yang cukup jelas mereka utarakan, bahwasanya kekuasaan tanpa integritas adalah ancaman.

Menariknya, di balik kemarahan yang lugas, lagu ini tetap menyisakan ruang harapan. 

“Kami percaya bahwa perlawanan yang tumbuh dari solidaritas adalah fondasi yang mampu meruntuhkan kekuasaan para pengkhianat,” tegas Reiwa.

Mereka percaya bahwa langkah kebersamaan merupakan fondasi perlawanan. Ketika kesadaran kolektif itu tumbuh, kuasa yang dibangun di atas pengkhianatan pada akhirnya akan runtuh oleh suaranya sendiri.

“Perfidious” juga menjadi pengingat moral, bahwa generasi mendatang layak mewarisi dunia yang lebih jujur dan adil. Karya mereka layak menjadi medium untuk menjaga kewarasan publik.

Melalui rilisan ini, Reiwa mengajak pendengar untuk menjaga bara harapan dan berani mengambil sikap. Single yang menjadi representasi bagi suara-suara yang kerap disisihkan, sekaligus penegasan bahwa perlawanan tak pernah benar-benar kehilangan ruang untuk tumbuh. Kini lagunya sudah bisa didengar diseluruh digital platform musik kesayangan kalian. Bravo!! (INQ)

Menuju Album Perdana, Basajan Menyelami Spiritualitas Sunda Lewat Single Terbaru “Nadoman”

Categories: Music

Share
Unit instrumental eksperimental asal Kabupaten Bandung, Basajan, kembali meluncurkan karya terbaru berjudul “Nadoman”. Dirilis sebagai pijakan awal menuju album penuh perdana mereka, single ini juga hadir dalam rangka menyambut bulan Ramadan dengan membawa pesan kritis yang bersumber dari tradisi tutur masyarakat Jawa Barat.

Secara harfiah, “Nadoman” (atau Nadzom) merupakan tradisi melantunkan bait-bait pujian dan nasihat ajaran agama Islam berbahasa Sunda yang kerap menggema di langgar atau masjid menjelang waktu salat. Bagi Basajan, “Nadoman” merupakan medium renungan budaya yang sarat makna.

Dalam single ini, Basajan menggali estetika “Nadoman” yang identik dengan pola repetisi dan melodi khas Sunda, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa musik mereka yang unik. Tanpa meninggalkan akar tradisinya, “Nadoman” tetap setia pada jalur Priangan Psychedelic Groove yang memadukan ritme enerjik dengan tekstur suara yang luas dan penuh warna.

Basajan memaknai “Nadoman” sebagai pengingat akan resonansi antara manusia, Sang Pencipta, dan alam semesta. Lewat komposisi ini, mereka berupaya menghadirkan ketenangan sekaligus pengalaman transenden ke dalam lantai dansa yang tetap groovy namun liar yang merupakan ciri khas psikedelia.

“Nadoman” menjadi potongan teka-teki berikutnya setelah rilisan-rilisan sebelumnya yang membawa atmosfer mistis, sedangkan “Nadoman” menawarkan lapisan aransemen instrumen yang kian matang dalam meramu musik instrumental yang punya bercerita.

Eksplorasi mereka semakin diperkaya dengan visual artwork garapan Yuri Yeuyanan, yang menerjemahkan getaran spiritual lagu ke dalam estetika grafis selaras dengan konsep album mendatang. Dari sisi produksi, proses mixing dan mastering ditangani oleh Panji Wisnu, dan rilisan ini didistribusikan melalui label Bahasa Ibu Records.

“Nadoman” telah tersedia di berbagai platform musik digital sejak 13 Februari 2026. (INQ)

Lewat “Bumi Menangis (Unplugged)”, MAN SINNER Angkat Isu Banjir dan Krisis Lingkungan

Categories: Music

Share
Grup skatepunk asal Jakarta, Man Sinner, resmi merilis single terbaru mereka bertajuk “Bumi Menangis (Unplugged)” dalam format audio di seluruh platform musik digital pada 9 Februari 2026. Perilisan ini melanjutkan kehadiran video klip yang lebih dulu tayang perdana pada 9 Januari 2026 melalui kanal YouTube resmi mereka.

Single ini lahir sebagai respons atas bencana banjir bandang yang melanda wilayah Sumatra dan Aceh, sekaligus menjadi refleksi atas kondisi krisis lingkungan yang kian mengkhawatirkan di Indonesia. Lewat lagu ini, Man Sinner mencoba menyuarakan kegelisahan sekaligus ajakan untuk lebih peduli terhadap keseimbangan alam.

Berbeda dari karya-karya mereka yang identik dengan tempo cepat dan energi agresif khas skatepunk, “Bumi Menangis (Unplugged)” hadir dengan aransemen akustik yang lebih tenang. Format ini dipilih agar pendengar dapat lebih fokus pada pesan lirik yang disampaikan. Dalam proses kreatifnya, para personel menilai pendekatan unplugged memberi ruang bagi kata-kata untuk berbicara lebih jernih dan menyentuh.

"Format audio di platform digital membuat lagu ini lebih mudah diakses. Kami ingin pesan visual dari video klip tetap kuat, tapi kini pendengar bisa merasakan kedalaman lirik kapan saja lewat musik," ucap para personel Man Sinner dalam keterangan tertulisnya.

Penggarapan lagu ini dilakukan secara spontan setelah mereka menyaksikan langsung dampak bencana yang terjadi. Demi memprioritaskan karya tersebut, jadwal rekaman dua lagu baru yang sebelumnya telah direncanakan pun terpaksa ditunda.

Tak hanya merilis lagu, Man Sinner juga membuka pre-order merchandise “Bumi Menangis (Unplugged)” berupa kaos dengan desain yang selaras dengan pesan lagunya. Kaos tersebut dibanderol seharga Rp110 ribu dan dapat dipesan melalui direct message (DM) akun Instagram @mansinner_official mulai 15 Februari 2026.

Kini, “Bumi Menangis (Unplugged)” sudah dapat dinikmati di berbagai layanan streaming musik digital, sementara video klipnya tetap tersedia di kanal YouTube resmi Man Sinner. Lewat rilisan ini, mereka berharap semakin banyak orang tersadarkan bahwa eksploitasi berlebihan terhadap Bumi harus dihentikan sebelum alam menuntut keseimbangannya sendiri. (INQ)