Riot City Fest 2026 Usung Perayaan Kekacauan di Basemet Hotel Britz Karawang

Categories: Collaboration

Share
Riot City Fest (RCF) yang digelar pada 1 Februari 2026 lalu di Brits Hotel Karawang berhasil membuktikan bahwa festival musik bukan hanya soal hingar bingar headliners-nya, tetapi juga telah menciptakan ekosistem positif yang selaras dengan pertumbuhan minat dan bakat generasi muda yang terus bergaung kuat di Kota Karawang. 

Dengan mengusung konsep sebagai ruang ekspresi yang berani dan hidup, RCF menjadi wadah inklusif bagi beragam energi musik. Mulai dari alternative rock, metal, intensitas hardcore, midwest emo, nostalgia reggae/ska, hingga indie popyang catchy dimana semua terjalin dalam satu panggung sederhana nan tak terlupakan. Penonton merasakan atmosfer ‘underground’ yang berbeda dengan latar gelap dan intimate dengan sistem tata suara yang profesional. Tujuannya, agar komunitas musik Karawang tidak monoton dan selalu open minded terhadap konsep DIY (Do It Yourself) yang merupakan ciri khas musik indie.

RCF juga menyediakan ruang kolektif bagi kreatifitas lokal selain musik dengan menghadirkan pop-up booth, live sablon dan mural art yang melibatkan para kreator lokal Karawang yang sudah cukup dikenal. Penyelenggara juga menyediakan stand khusus bagi komunitas fingerboard dalam menyalurkan bakat mereka. Elemen-elemen ini tidak hanya jadi pajangan, tetapi menjadi ruang kolaborasi aktif. Pengunjung terlibat untuk saling berinteraksi, berdiskusi dan menghargai karya fisik sebagai bagian dari dukungan produk lokal.

Basement Brits Hotel Karawang yang biasanya dipakai sebagai titip parkir kendaraan, hari itu menjelma menjadi ‘lantai dansa’ yang memadukan kehangatan pertemanan dengan energi yang padat dan mentah. Venue ini sengaja dipilih untuk memberikan nuansa baru dan eksklusif bagi kancah lokal yang berbeda dari kesan outdoor atau panggung biasa sekaligus menciptakan kedekatan emosional antara penonton dan performer.

Sinergi dengan Brits Hotel yang mengusung kampanye "Hospitality As A Community Hub". Brits Hotel tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi tetap aktif mendorong kolaborasi antar komunitas ke arah simbiosis mutualisme. Semoga hal ini dapat menjadi role model bagi bisnis hospitaliti lainnya untuk turut serta dalam aktivitas komunitas dan industri kreatif lokal terutama pada musik ‘indie’penden.

Kembali ke panggung, RCF menghadirkan lineup yang tak terikat pada satu genre sahaja. Mereka mengajak berbagai unsur musik untuk ikut bergoyang dan bernyanyi bersama layaknya tuan rumah yang menyambut seluruh tetangga dengan hangat. Mayoritas penampilnya berasal dari komunitas musik yang juga terlibat dalam tim RCF, seperti Dprty band, NBLA, Street Bloods, Jaya Group Foundation, Noend dan Reiwa (semuanya dari Karawang). Ditambah dengan tamu dari luar kota seperti Tamago (Tangsel), Hermione (Tangerang), Bimbingan Anak Tersiap Di Dunia a.k.a Batdd (Tangerang) dan Alkateri (Bandung). Duo MC Adji dan Feris turut menyemarakkan suasana dengan jokes segar sambil berbagi quiz bersama pengunjung sehingga acara berjalan lancar dan tertib sampai selesai.

Setiap band menampilkan pertunjukan maksimal sejak awal hingga akhir event dan mampu mengendalikan emosi penonton tanpa jeda. Suasana saling menghargai dan mendukung terasa kuat bahkan saat terjadi gesekan di moshpit, semua dapat dimaklumi sebagai bagian dari harmoni berekspresi. Seperti momen yang terjadi saat Reiwa, sang pionir metalcore Karawang tampil garang dengan energi angst brigade yang beringas, diiringi distorsi tajam penuh daya dan ketukan dbeat yang berkecepatan tinggi. Energi itu semakin meluap ketika Ekal ‘People Sweet’ ikut berteriak menggila di lagu “Anosmia Empati”. Their wild instincts are BEASTS.

Tak berhenti di situ, massa semakin bergejolak menjelang akhir acara saat Alkatalis (basis fans Alkateri) memadati tengah panggung dan hampir tak membiarkan Ojan, sang vokalis, bernyanyi sendirian. Kru RCF yang berjaga sebagai barikade hidup pun terlihat kewalahan menghadapi gelombang massa Alkatalis, bagai korban ‘Penetrasi Kontemplasi’. Tidak hanya itu, Alkateri juga seolah sengaja mengandalkan lagu “egosentris” sebagai gambaran situasi mereka saat undur diri di RCF. Bappp!

Pada akhirnya, Riot City Fest menunjukkan bahwa Karawang kini memiliki ruang kreatif yang dinamis. Setiap genre musik bisa berdampingan dan diterima dalam satu harmoni. Salut untuk kolaborasi sejati antara penyelenggara, sponsor, dan pihak venue yang berhasil menciptakan pengalaman otentik dan mendalam. Event ini telah menjadi penerus semangat komunitas indie lokal di Karawang yang kreatif dan berani berbeda. Can’t wait to see kelanjutan dari Riot City Fest selanjutnya !!! EXCELSIOR! (INQ)

MORFA Unit Folk Indie dari Bandung, Rilis Single “Takdir & Cinta” Sebuah Pengantar Syahdu Tentang Perpisahan

Categories: Music

Share
Dari Bandung, kota yang kerap tak pernah kehabisan nafas dalam melahirkan musisi-musisi berkualitas. Dari berbagai genre dan pendekatan musikal, tempat ini terus menghadirkan talenta baru yang layak diperhitungkan di peta musik nasional. Salah satunya adalah Morfa, unit folk-indie asal Bandung yang resmi terbentuk pada November 2024.

Digawangi oleh Omree (bass/vokal), Cikal (gitar/vokal latar), Ical (keyboard/vokal latar), dan Otong (drum). Nama Morfa sendiri bukan sekadar rangkaian huruf yang merupakan singkatan dari Amor Fati, sebuah filosofi tentang mencintai takdir apa pun yang terjadi. Nilai inilah yang kemudian menjadi fondasi emosional sekaligus identitas awal perjalanan musik mereka.

Melalui single debut berjudul “Takdir & Cinta”, Morfa memperkenalkan diri dengan cara yang jujur dan apa adanya. Lagu ini lahir dari pengalaman personal salah satu vokalisnya, mengisahkan hubungan yang perlahan kehilangan kesehatannya. Ada kebimbangan, rasa lelah, hingga akhirnya sampai pada titik ikhlas untuk melepaskan, yup sebuah proses struggling for an ending pain yang tak mudah, namun harus dijalani.

“Takdir & Cinta” menggambarkan kelamnya perpisahan yang tidak selalu berujung bahagia. Namun di balik itu, Morfa mencoba menegaskan bahwa hidup harus tetap berjalan. Lagu ini menjadi refleksi tentang belajar menerima keadaan, meski takdir datang dengan cara yang tak pernah kita duga.

Secara musikal, Morfa menawarkan karakter yang cukup kuat untuk sebuah identitas. Permainan keyboard dan gitar membuka lagu dengan nuansa tenang, kemudian diikuti alur drum dan bass yang mengalun stabil. Komposisi ini menciptakan atmosfer syahdu yang terasa kontras dengan liriknya yang lirih tenang di permukaan.

Pendekatan lirik Morfa terbilang minim metafora berlebihan. Mereka memilih lugas sebagai jalur utama, agar pesan lagu bisa langsung sampai ke pendengar tanpa perlu ditafsir terlalu jauh. Justru dari kesederhanaan inilah emosi lagu terasa lebih dekat dan nyata, membawa pendengar masuk ke ruang perasaan yang sunyi dan sedikit memilukan.

“Takdir & Cinta” menjadi benang merah untuk perjalanan musik mereka ke depan. Kemana arah musikal yang ingin mereka tempuh folk indie yang disisipkan cerita personal, nuansa kontemplatif, dan keintiman emosi sebagai kekuatan utama.

Tentu Morfa punya ruang luas untuk mengeksplorasi puitisasi personal, baik melalui aransemen akustik yang organik maupun sentuhan distorsi ringan yang tetap terkendali. Musik mereka terasa pas menemani momen-momen hening seperti nyore di sudut kota, secangkir coffee latte, dan pikiran yang sedang ingin diam sejenak.

Single “Takdir & Cinta” kini telah tersedia di berbagai DSP dan kanal YouTube resmi Morfa. Dengarkan, resapi, dan beri dukungan sebagai bentuk apresiasi untuk musisi lokal yang khususnya di ranah folk indie. (INQ)

OTR Rilis “ROLLER COASTER : SOUND OF SONDER”, Sebuah Konflik Emosional Menuju Pendewasaan Berbalut Surf Rock

Categories: Music

Share
Band rock asal Karawang, OTR (On The Rock) resmi merilis mini album terbaru bertajuk “Roller Coaster : Sound of Sonder”, yang mengangkat konflik emosional dan proses pendewasaan, dengan balutan rock retro dan sentuhan Surf Rock. EP berisi empat lagu ini merangkum perjalanan emosional yang penuh dinamika dari kebingungan dan tekanan batin, hingga proses bertumbuh menuju pendewasaan yang lahir dari konflik dalam diri.

Melalui rilisan ini, OTR menghadirkan potret perasaan yang kerap sulit diucapkan. “Roller Coaster” merepresentasikan ritme hidup yang bergerak cepat dan tak terduga. Sementara “Sound of Sonder” menyoroti kesadaran sunyi bahwa setiap pengalaman emosional yang dirasakan ternyata juga dialami oleh banyak orang. Dari pemahaman inilah muncul kedekatan dan rasa yang menjadi nafas utama mini album ini.

EP ini menjadi kelanjutan narasi dari single sebelumnya, Highest Place. Jika karya terdahulu lebih banyak berbicara tentang harapan, mini album ini hadir dengan pendekatan yang lebih personal, lebih gelap, dan lebih emosional. OTR menyelami sisi rapuh manusia yang menjadi bagian dari proses pendewasaan.

Mini album ini dibuka dengan “Mirror”, sebuah lagu yang mengangkat kegelisahan saat mempertanyakan sikap orang-orang terdekat. Di titik ini muncul kesadaran bahwa konflik kerap menjadi pantulan dari diri sendiri. “Mirror” menjadi gerbang refleksi yang mewarnai keseluruhan perjalanan EP ini.

Berlanjut ke “Sonder”, OTR mengajak pendengar menyelami makna bahwa setiap orang termasuk mereka yang hanya ditemui sepintas,membawa beban dan kompleksitas hidupnya masing-masing. Kesadaran ini melahirkan perasaan ganjil. Dan dalam menghadapi dunia ini kita tidak sendirian.

Track ketiga, “Roller Coaster”, menjadi titik klimaks. Lagu ini menggambarkan fase terendah dalam hidup ketika emosi bergerak naik-turun tak terkendali. Segalanya terasa terlalu berat, pikiran menggelap, dan tubuh seakan menolak untuk terus bertahan. Di sini, OTR menumpahkan kejujuran tentang sulitnya menerima kenyataan terutama ketika luka justru datang dari orang-orang terdekat.

Mini album ditutup dengan “Daydream”, sebuah lagu reflektif yang menandai titik balik. Setelah melewati kekacauan, muncul kesadaran bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya bisa dikendalikan. Saat ekspektasi dilepaskan dan realita diterima, ketenangan perlahan hadir. “Daydream” menjadi penutup hangatdan menjadi penutup yang tenang setelah seluruh konflik yang dilewati.

Dari sisi musikalitas, EP ini menunjukkan eksplorasi baru OTR. Tetap berakar pada karakter rock era 70-an hingga 80-an, OTR memperkaya paletnya dengan sentuhan Surf Rock pada “Sonder” serta Narrative Rock pada “Daydream”. Sementara “Mirror” dan “Roller Coaster” disajikan dengan aransemen yang lebih dinamis untuk memperkuat setiap fase emosi dan cerita yang ingin disampaikan.

Melalui “Roller Coaster : Sound of Sonder”, hadurkan sebuah perjalanan batin tentang konflik yang membentuk kedewasaan dan pengalaman personal. Berangkat dari keinginan untuk memulai segalanya secara profesional, OTR melakukan kolaborasi dengan berbagai rumah produksi. Proses dimulai dengan perekaman instrumen secara mandiri oleh para personel, kemudian berlanjut ke Ec3 Studio untuk rekaman drum. Untuk vokal, OTR menggandeng Broadway Music Production Studio.

Meski di tengah produksi menghadapi berbagai kendala dan revisi, semangat OTR tak pernah padam. Proses mixing dan mastering ditutup manis oleh Kevin Indriawan (personel band Black Horses), memberi sentuhan akhir yang solid dan emosional. OTR pun percaya diri bahwa EP ini akan “mengacaukan” emosi para pendengarnya

Tak hanya pada produksi musik, OTR juga berkolaborasi dalam penggarapan artwork bersama artsurd. Artwork yang dihadirkan penuh dengan palet warna gelap, simbol-simbol yang bertabrakan, serta tipografi tegas. Visual ini menjadi representasi pergolakan emosional yang dituangkan OTR sepanjang EP.

“Lagu-lagu ini lahir dari pengalaman yang sulit diceritakan. Tapi lewat musik, semuanya bisa kami tuangkan. Kami percaya banyak orang di luar sana merasakan hal serupa, dan kami ingin mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian.” Ungkap mereka.

On The Rock (OTR) adalah band asal Karawang dengan genre rock bergaya retro yang enerjik. Nama OTR diambil dari menu signature drink Espresso On The Rock—sederhana, berkarakter, dan merepresentasikan musik mereka yang berdiri di atas akar rock klasik.

OTR beranggotakan Fitrah (vokal), Gilang (bass & backing vocal), Vicky (gitar), dan Wahyu (drum). Berdiri sejak akhir 2020, OTR merilis single perdana “Budak Korporat” pada 2022, yang lahir dari keresahan para pekerja dengan upah minim namun tuntutan kerja maksimal. Pada 2024, OTR merilis “Highest Place”, sebuah kisah tentang harapan dan perjuangan di tengah konflik kehidupan.

Mini album Roller Coaster : Sound of Sonder sudah bisa didengar diseluruh DSP fav kalian fren. Congratulations! (INQ)