JAVANESE CAT dan “Gratia Plena”, Ketika Grunge Menjadi Kitab Perlawanan

Categories: Music

Share
Karawang kembali memantik bara dari skena alternatifnya. JAVANESE CAT (JC), trio grunge alternative yang tak pernah setengah-setengah dalam menyuarakan keresahan, resmi merilis album terbaru mereka, “Gratia Plena”, pada Februari 2026 di bawah naungan label independen Kujapro (Kucing Jawa Production).

Terbentuk pada 2018 dengan formasi terbarunya, Ray Cornell A. F. Simanjuntak (vokal & gitar), Pramudia (bass), dan Joshua Krisluis B. Sinaga (drum) yang aksi panggungnya selalu liar. Setelah “The Best of the Beast” (2021) dan “Paripurna” (2025), kini mereka datang dengan karya yang terasa lebih matang, lebih sadar arah, dan lebih berani meninggalkan pakem grunge yang repetitif. Jika dulu mereka terdengar seperti anak-anak yang tumbuh besar dengan kaset Seattle, sekarang mereka terdengar seperti musisi yang tahu kenapa mereka memilih distorsi.

Jejak pengaruh band-band alternatif 90-an memang masih terasa, dari gelapnya harmoni ala Alice in Chains, groovekeras Stone Temple Pilots, hingga intensitas vokal yang mengingatkan pada Soundgarden, Pearl Jam, dan Nirvana.

“Gratia Plena” secara harfiah berarti “Penuh Rahmat”, judul ini terdengar lembut, bahkan sakral. Tapi JC justru menggunakannya sebagai paradoks. Album ini ditulis dari sudut pandang pihak ketiga bak sebuah cara untuk menatap dunia dengan jarak, mengamati paranoia, kemunafikan, perundungan, perang, hingga deforestasi, lalu mengubah semuanya bak kitab perlawanan.

“Album ini adalah pengingat bagi kami dan siapa pun yang mendengarnya, bahwa ‘penuh rahmat’ bukan sekadar kata, melainkan filosofi yang dalam,” tutur Pram.

Track pembuka, “In Nomine Patris”, adalah kolaborasi dengan unit post-hardcore Karawang, People Sweet. Nuansanya apokaliptik—bayangan Perang Dunia III, politikus haus kuasa, dan senjata pemusnah massal. Gitar meraung, drum menghantam tanpa kompromi, seolah menjadi sirene peringatan bahwa kemanusiaan sedang dipertaruhkan.

“Madeline” bergerak lebih personal, tapi tak kalah politis. Di tangan Ray, sosok “kupu-kupu malam” tidak digambarkan sebagai stereotip murahan. Ia adalah ibu, “ibu perjuangan”. Lagu ini seperti tamparan bagi moralitas yang gemar menghakimi tanpa pernah mau memahami.

Ketika “Aksara Rindu di Epilog Purna” mengalun dengan nuansa folk-pop, JC menunjukkan sisi lain yang lebih rapuh. Vokal Ray terdengar lembut, nyaris seperti surat cinta yang tak pernah benar-benar selesai. Sebuah jeda yang manis sebelum “Terlahir Istimewa” kembali menghantam dengan power chord dan semangat pembelaan terhadap mereka yang sering dianggap berbeda.

Di “Larut”, bersama Yohana Baptista, JC bermain lebih cair. Ada sentuhan pop dan jazz 90-an yang membuat lagu ini terasa seperti malam panjang dengan segelas wine dan percakapan ngalor ngidul. Lalu “Domang” membawa pendengar ke isu lingkungan—tentang gajah Sumatera di Taman Nasional Tesso Nilo yang terdesak oleh perkebunan sawit—bentuk protes yang dibungkus distorsi lambat dan berat.

“Hepatitis A” menjadi katarsis mentah tanpa filter. Patah hati yang pahit, sumpah serapah, distorsi kasar, tentunya energinya liar, seperti ruang latihan sempit dengan ampli yang diputar mentok. Dan akhirnya, “Ave Maria” bersama Patricia Dominique menutup album dengan piano minimalis dan vokal soprano yang cendrung hening. Setelah delapan trek penuh gejolak, JC memilih mengakhiri perjalanan nyaman tanpa ledakan.

Diproduksi mandiri dengan sentuhan M. Syidik Subagja sebagai sound engineer, “Gratia Plena” terdengar megah meski dimainkan oleh trio binal. Riff tajam, bass yang tebal, dan ketukan drum eksperimental.

Penasaran dengan lagu-lagu mereka? Album “Gratia Plena” tentunya sudah bisa didengarkan di seluruh kanal resmi milik mereka, ride the wave! (INQ)

Riot City Fest 2026 Usung Perayaan Kekacauan di Basemet Hotel Britz Karawang

Categories: Collaboration

Share
Riot City Fest (RCF) yang digelar pada 1 Februari 2026 lalu di Brits Hotel Karawang berhasil membuktikan bahwa festival musik bukan hanya soal hingar bingar headliners-nya, tetapi juga telah menciptakan ekosistem positif yang selaras dengan pertumbuhan minat dan bakat generasi muda yang terus bergaung kuat di Kota Karawang. 

Dengan mengusung konsep sebagai ruang ekspresi yang berani dan hidup, RCF menjadi wadah inklusif bagi beragam energi musik. Mulai dari alternative rock, metal, intensitas hardcore, midwest emo, nostalgia reggae/ska, hingga indie popyang catchy dimana semua terjalin dalam satu panggung sederhana nan tak terlupakan. Penonton merasakan atmosfer ‘underground’ yang berbeda dengan latar gelap dan intimate dengan sistem tata suara yang profesional. Tujuannya, agar komunitas musik Karawang tidak monoton dan selalu open minded terhadap konsep DIY (Do It Yourself) yang merupakan ciri khas musik indie.

RCF juga menyediakan ruang kolektif bagi kreatifitas lokal selain musik dengan menghadirkan pop-up booth, live sablon dan mural art yang melibatkan para kreator lokal Karawang yang sudah cukup dikenal. Penyelenggara juga menyediakan stand khusus bagi komunitas fingerboard dalam menyalurkan bakat mereka. Elemen-elemen ini tidak hanya jadi pajangan, tetapi menjadi ruang kolaborasi aktif. Pengunjung terlibat untuk saling berinteraksi, berdiskusi dan menghargai karya fisik sebagai bagian dari dukungan produk lokal.

Basement Brits Hotel Karawang yang biasanya dipakai sebagai titip parkir kendaraan, hari itu menjelma menjadi ‘lantai dansa’ yang memadukan kehangatan pertemanan dengan energi yang padat dan mentah. Venue ini sengaja dipilih untuk memberikan nuansa baru dan eksklusif bagi kancah lokal yang berbeda dari kesan outdoor atau panggung biasa sekaligus menciptakan kedekatan emosional antara penonton dan performer.

Sinergi dengan Brits Hotel yang mengusung kampanye "Hospitality As A Community Hub". Brits Hotel tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi tetap aktif mendorong kolaborasi antar komunitas ke arah simbiosis mutualisme. Semoga hal ini dapat menjadi role model bagi bisnis hospitaliti lainnya untuk turut serta dalam aktivitas komunitas dan industri kreatif lokal terutama pada musik ‘indie’penden.

Kembali ke panggung, RCF menghadirkan lineup yang tak terikat pada satu genre sahaja. Mereka mengajak berbagai unsur musik untuk ikut bergoyang dan bernyanyi bersama layaknya tuan rumah yang menyambut seluruh tetangga dengan hangat. Mayoritas penampilnya berasal dari komunitas musik yang juga terlibat dalam tim RCF, seperti Dprty band, NBLA, Street Bloods, Jaya Group Foundation, Noend dan Reiwa (semuanya dari Karawang). Ditambah dengan tamu dari luar kota seperti Tamago (Tangsel), Hermione (Tangerang), Bimbingan Anak Tersiap Di Dunia a.k.a Batdd (Tangerang) dan Alkateri (Bandung). Duo MC Adji dan Feris turut menyemarakkan suasana dengan jokes segar sambil berbagi quiz bersama pengunjung sehingga acara berjalan lancar dan tertib sampai selesai.

Setiap band menampilkan pertunjukan maksimal sejak awal hingga akhir event dan mampu mengendalikan emosi penonton tanpa jeda. Suasana saling menghargai dan mendukung terasa kuat bahkan saat terjadi gesekan di moshpit, semua dapat dimaklumi sebagai bagian dari harmoni berekspresi. Seperti momen yang terjadi saat Reiwa, sang pionir metalcore Karawang tampil garang dengan energi angst brigade yang beringas, diiringi distorsi tajam penuh daya dan ketukan dbeat yang berkecepatan tinggi. Energi itu semakin meluap ketika Ekal ‘People Sweet’ ikut berteriak menggila di lagu “Anosmia Empati”. Their wild instincts are BEASTS.

Tak berhenti di situ, massa semakin bergejolak menjelang akhir acara saat Alkatalis (basis fans Alkateri) memadati tengah panggung dan hampir tak membiarkan Ojan, sang vokalis, bernyanyi sendirian. Kru RCF yang berjaga sebagai barikade hidup pun terlihat kewalahan menghadapi gelombang massa Alkatalis, bagai korban ‘Penetrasi Kontemplasi’. Tidak hanya itu, Alkateri juga seolah sengaja mengandalkan lagu “egosentris” sebagai gambaran situasi mereka saat undur diri di RCF. Bappp!

Pada akhirnya, Riot City Fest menunjukkan bahwa Karawang kini memiliki ruang kreatif yang dinamis. Setiap genre musik bisa berdampingan dan diterima dalam satu harmoni. Salut untuk kolaborasi sejati antara penyelenggara, sponsor, dan pihak venue yang berhasil menciptakan pengalaman otentik dan mendalam. Event ini telah menjadi penerus semangat komunitas indie lokal di Karawang yang kreatif dan berani berbeda. Can’t wait to see kelanjutan dari Riot City Fest selanjutnya !!! EXCELSIOR! (INQ)

MORFA Unit Folk Indie dari Bandung, Rilis Single “Takdir & Cinta” Sebuah Pengantar Syahdu Tentang Perpisahan

Categories: Music

Share
Dari Bandung, kota yang kerap tak pernah kehabisan nafas dalam melahirkan musisi-musisi berkualitas. Dari berbagai genre dan pendekatan musikal, tempat ini terus menghadirkan talenta baru yang layak diperhitungkan di peta musik nasional. Salah satunya adalah Morfa, unit folk-indie asal Bandung yang resmi terbentuk pada November 2024.

Digawangi oleh Omree (bass/vokal), Cikal (gitar/vokal latar), Ical (keyboard/vokal latar), dan Otong (drum). Nama Morfa sendiri bukan sekadar rangkaian huruf yang merupakan singkatan dari Amor Fati, sebuah filosofi tentang mencintai takdir apa pun yang terjadi. Nilai inilah yang kemudian menjadi fondasi emosional sekaligus identitas awal perjalanan musik mereka.

Melalui single debut berjudul “Takdir & Cinta”, Morfa memperkenalkan diri dengan cara yang jujur dan apa adanya. Lagu ini lahir dari pengalaman personal salah satu vokalisnya, mengisahkan hubungan yang perlahan kehilangan kesehatannya. Ada kebimbangan, rasa lelah, hingga akhirnya sampai pada titik ikhlas untuk melepaskan, yup sebuah proses struggling for an ending pain yang tak mudah, namun harus dijalani.

“Takdir & Cinta” menggambarkan kelamnya perpisahan yang tidak selalu berujung bahagia. Namun di balik itu, Morfa mencoba menegaskan bahwa hidup harus tetap berjalan. Lagu ini menjadi refleksi tentang belajar menerima keadaan, meski takdir datang dengan cara yang tak pernah kita duga.

Secara musikal, Morfa menawarkan karakter yang cukup kuat untuk sebuah identitas. Permainan keyboard dan gitar membuka lagu dengan nuansa tenang, kemudian diikuti alur drum dan bass yang mengalun stabil. Komposisi ini menciptakan atmosfer syahdu yang terasa kontras dengan liriknya yang lirih tenang di permukaan.

Pendekatan lirik Morfa terbilang minim metafora berlebihan. Mereka memilih lugas sebagai jalur utama, agar pesan lagu bisa langsung sampai ke pendengar tanpa perlu ditafsir terlalu jauh. Justru dari kesederhanaan inilah emosi lagu terasa lebih dekat dan nyata, membawa pendengar masuk ke ruang perasaan yang sunyi dan sedikit memilukan.

“Takdir & Cinta” menjadi benang merah untuk perjalanan musik mereka ke depan. Kemana arah musikal yang ingin mereka tempuh folk indie yang disisipkan cerita personal, nuansa kontemplatif, dan keintiman emosi sebagai kekuatan utama.

Tentu Morfa punya ruang luas untuk mengeksplorasi puitisasi personal, baik melalui aransemen akustik yang organik maupun sentuhan distorsi ringan yang tetap terkendali. Musik mereka terasa pas menemani momen-momen hening seperti nyore di sudut kota, secangkir coffee latte, dan pikiran yang sedang ingin diam sejenak.

Single “Takdir & Cinta” kini telah tersedia di berbagai DSP dan kanal YouTube resmi Morfa. Dengarkan, resapi, dan beri dukungan sebagai bentuk apresiasi untuk musisi lokal yang khususnya di ranah folk indie. (INQ)