“Menyesal Baca Berita” Sebuah Pesan Getir dari KATASWARA Untuk Netizen yang Over Kepo

Categories: Music

Share
Kita ke Jawa Barat bersama Kataswara yang kembali menunjukkan kekuatannya dalam merangkai kisah getir zaman menjadi sebuah rangkaian syair tajam yang berirama eksperimental yang sarat akan kejujuran tercurahkan di single terbaru mereka. “Menyesal Baca Berita” sebuah secarik pesan tajam yang lahir dari lelahnya generasi kini yang kian tenggelam informasi tanpa makna pasti.

“Menyesal Baca Berita” ibarat monumen kecil yang complicated bagi netizen ketika dunia maya penuh tipu meraih rating tertinggi sementara kesedihan nyata yang terlihat malah menjadi intrik sosial tanpa solusi. Bagaikan asap api yang samar dan pahit tapi nyata menembus ke dada. Kataswara semata menulisnya untuk mengingatkan bahwa dibalik segala topeng itu ada bagian lain dari diri kita juga yang perlahan akan merasakan mati.

Dengan mengusung pendekatan musik alternative, lagu ini bermonolog secara pelan namun mengisi ruang individu untuk merenung diri atau sekadar melepas penat dari putaran dunia 24 jam. “Menyesal Baca Berita” menemani manusia yang sudah mulai lelah menjadi saksi atas perang informasi tanpa validitas fakta digital.

Secara musikal, lagu ini tetap konsisten dengan warna alternative khas Kataswara sejak awal mula mereka terbentuk 2020 silam di Tasikmalaya. Aransemennya secara presisi dibangun guna menciptakan dinamika yang pas antara bagian sunyi, reflektif dan emosional. Nuansa gelap dan getir terasa dari intro hingga akhir mewujudkan dark ambience sesuai tema yang diusungnya.

Kekuatan lirik sebagai pilar utama lagu ini merupakan trademark ‘Perlawanan Nada’ dari Kataswara yang menangkap sensasi puitis dan sarkastik dari terminologi ‘Netizen Bingung’. Contohnya seperti pada Bait “Buka mata, serasa tak ada kepala / Penguasa bersuara, tak lain hanya bercanda” adalah kalimat satir terhadap absurditas dunia media dan kekuasaan yang hampir tanpa ada sekat perbedaan yang motifnya kerap terekam berulang. Pendekatan cerdas terkesan tidak menggurui atau marah-marah dan menyajikan keputusasaan yang getir. 

Overall, “Menyesal Baca Berita” membuktikan diri mereka sebagai band berkarakter dan punya visi yang jelas kedepan. Single ini adalah sebuah protes puitis dan getir untuk kita yang masih bertahan membuka berita di pagi hari. Bagaikan serpihan cermin retak yang dengan berani kita tatap bersama meski harus disesali kebenarannya.

Langsung aja fren kepoin instagram Kataswara untuk kisah perjalanan mereka dan saksikan video lyric “Menyesal baca Berita” di kanal youtube SPP Music. Single tersebut juga telah tersimpan rapi diberbagai DSP. (INQ)

Juara Hammerclash 2025, CLOATH Menyulut Materi Fresh Hardcore Lewat EP Terbaru Mereka “The Fallen God”

Categories: Music

Share
Please Welcome to CLOATH, unit chaotic hardcore dari Bagian Timur Indonesia, Banda Aceh telah meluncurkan EP perdananya “The Fallen God” yang gak bisa kalian tunda buat didengar dan headbang bersama! Pada album EP kali ini CLOATH merilis 6 brutally tracks sebagai alerta  akan masa muda yang tak terkendali dan semangat yang tak pernah tergoyahkan!

Formasi CLOATH saat ini terdiri dari Fatahillah Reza (vokalis), Wirya Nugraha (gitaris), Dopan Rehayatsyah Putra(gitaris), M. Khairul Azmi (bassis) dan Alief Maulana (drummer). CLOATH yang merupakan Juara Hammerclash 2025resmi fire the stage pada Hammersonic 2026 mendatang sepanggung dengan para headliners internasional seperti Gorilla Biscuit, Speed, Jinjer, Counterparts and many more. Bhapp !

Sejak awal dibentuk, CLOATH sengaja memilih musik yang berkarakter kuat dengan memadukan nada gitar low tuningyang bergemuruh, riff-riff menusuk tajam, atmosfer mencekam, dan dentuman double kick drum bikin babak belur with no mercy. Pertahanan CLOATH yang agresif, full power dan memiliki "their heavy style" memang benar nyata sejak detik pertama di EP ini. Tidak hanya sekadar throat screaming dan distorsi sahaja, dipadu dengan aransemen rumit tapi bisa tetep harmonis membuat setiap lagunya terasa epik dan full layered. Band brutally genius ini seperti merekayasa akar punk hardcore serta metal dengan berbagai karakter sound digital unik tanpa harus terikat dengan pakem pada umumnya.  

Background "The Fallen God" adalah rangkaian hikayat terinspirasi dari mitologi Nordik yang mengisahkan keruntuhan para dewa sebagai alegori manusia modern yang hancur karena haus kekuasaan, konflik batin yang berlebihan serta benturan kepentingan ‘kebinatangan’. Storyline-nya jelas sejak track pertama "Ashborn" (Intro) selaku pembuka konsep cerita, kemudian dilanjutkan dengan "Odin", "Hellheim","Ragnarok" dan "Valhalla" (feat. Dixie Erlangga). 

Their collaboration with Dixie Erlangga (Strangers) adalah a briliant choice sebagai ujung klimaks hantaman emosional dari EP ini. Dinamika duo vokal yang kontras semakin menciptakan perpaduan suara yang semakin menderu dan saling melengkapi satu sama lain tanpa harus mendominasi. 

Di akhir EP ini pun ditutup dengan "Ashes" yang menyisakan jejak kehampaan sekaligus refleksi di purna perjalanan kisahnya. 

CLOATH menegaskan kalo di momen EP "The Fallen God" ini merupakan pijakan langkah mereka kedepan dalam menjangkau audiens lebih luas lagi dan membangun interaksi dengan seluruh stakeholder kancah musik keras nasional tanpa harus lepas dari root bawah tanah yang telah membesarkan mereka. Apalagi setelah menang Hammerclash Festival 2025 lalu, CLOATH semakin berkomitmen membangun konsep yang lebih matang dan kolaborasi tepat guna demi menunjukkan keseriusan mereka siap bermain di kancah yang lebih besar.

Semoga EP tersebut berhasil menjadi medium refleksi positif baik untuk pendengar lama maupun pendengar baru yang menyukai musik berdistorsi berat seperti CLOATH.

Sebagai penutup, a reminder from Gampong Aceh, 

"Tapak jak urat nari, na tajak na raseuki" 

yang artinya: kaki berjalan, otot-urat pun melenggang, ada usaha pasti ada rezeki. 

"KRUE SEUMANGAT CLOATH !" 

And Grab it fast as your Brootal dancing Soundtrack at all DSP and follow their IG: cloathcvlt for more stories about them! (INQ)

WORKER MIRIAM Perkenalkan Emo Modern Lewat Single Perdana “Think About It”

Categories: Music

Share
Fren sekarang kita ke Kota Pahlawan, Surabaya yang tidak pernah kekurangan talenta khususnya di skena musik underground. Untuk kali ini ada Worker Miriam dari unit alternative emo. Band yang terdiri dari Rizuma (vokal), Fais(gitar), dan Dea (drum) officially telah merilis single pertamanya yang berjudul “THINK ABOUT IT” pada bulan Desember tahun kemarin. Single tersebut hadir dengan mixed up ala Paramore dan sedikit Dashboard Confessional tentunya lebih fresh dengan lirik intim.

Lagu “THINK ABOUT IT” bercerita tentang takdir seseorang yang masih terbelenggu oleh egonya sendiri, hingga akhirnya tersadarkan oleh dorongan lingkungan pergaulannya kini dan sekaligus mengajaknya untuk merefleksikan kembali dampak dari mental yang dulu merusaknya. Sebuah tema yang hingga kinipun masih relevan dengan rakyat skena hari ini dibungkus dengan energi musik clean distortion emo yang lebih banyak berbicara from heart to heart tanpa harus over crying mencaci maki absurdnya diri sendiri.

Proses kreatif single-nya sendiri ternyata tidak semudah penggundulan hutan menjadi ladang sawit, menurut sang vokalis, lagu “THINK ABOUT IT” awalnya adalah hasil eksperimen tanpa tujuan jelas dan butuh waktu tiga bulan untuk akhirnya dirampungkan. 

“Cukup struggle sih apalagi dengan kesibukan kita masing-masing saat menggarap single ini, namun akhirnya karya perdana ini dapat kami rampungkan dan kini telah tersaji ke ruang dengar teman-teman semua,” ungkap Rizuma.

Worker Miriam kedepan juga telah merencanakan single ini akan menjadi bagian dari sebuah Extended Play (EP) yang agendanya segera dirilis tahun ini sebagai pembuktian diri untuk terus berkarya dalam mengibarkan kembali bendera musik emo di ranah skena.

“THINK ABOUT IT” kini dapat dinikmati di seluruh platform streaming digital dan official Video Lyricnya juga sudah tayang di kanal Youtube resmi Worker Miriam. 

Buat kamu yang kepo dengan band ini, pantengin terus perkembangan Worker Miriam melalui akun Instagram @worker.miriam. (INQ)