KULTUS PARA PENDOSA: Sindiran Tajam DPRTYBAND untuk para “Kadzadzaba” di Era Modern

Categories: Music

Share
Dengan mengusung genre Alternative Rock, musik DPRTYBAND kerap diidentikkan dengan Rock ‘n’ Roll karena energi ‘forte’nya, namun mereka tetap dengan taste musik yang berbeda. Salah satu kekuatan mereka terletak pada kemampuan mengangkat isu sosial era anak muda masa kini dengan lirik yang relate dan banyak menyentuh karakter kehidupan di era modernisasi. Selain itu juga mereka sering tampil live dengan konsep teatrikal yang membuat kehadiran mereka semakin memukau di kancah musik alternatif Karawang.

Kembali ke single terbarunya, “Kultus Para Pendosa” sendiri sudah menggugah rasa penasaran dari judulnya saja. Secara harfiah, “kultus” mengacu pada kelompok sosial ekstrem dengan pengabdian berlebihan dan sering dianggap sebagi aliran yang menyimpang. Dalam konteks lagu ini, frasa tersebut dimaknai sebagai sekelompok orang yang merasa paling benar dan dengan mudahnya merendahkan pihak lain yang dianggap “berbeda” dan mencap mereka sebagai pendosa. 

Lagu ini langsung menyasar ke tema yang relevan dan berani yaitu fenomena kelompok yang gemar menghakimi, menggunakan dalih agama atau moralitas sebagai tameng untuk memaksakan kehendak. Mereka juga disebut ‘kadzadzaba atau munafik’ dalam bahasa Arab yang berarti para pendusta bertopeng agama. Melalui lirik yang ditulis oleh Fizol Muhamad, DPRTYBAND menyajikan sebuah sindiran tajam terhadap hipokrisi yang kerap terjadi terutama di kalangan elit politik dan tokoh agama yang memanipulasi narasi keagamaan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Pesannya jelas yaitu sebagai kritik tajam terhadap mereka yang menyalahgunakan otoritas spiritual untuk mengontrol, menghakimi, dan menjustifikasi cara-cara yang tak sepenuhnya suci dan penuh kebohongan.

Dari sisi produksi, “Kultus Para Pendosa” adalah hasil kolaborasi DPRTYBAND dengan Broadway Studio, sebuah rumah produksi lokal yang memiliki visi sejalan. Proses kreatif yang berlangsung selama sekitar satu bulan mulai dari penulisan lirik hingga aransemen final terasa menghasilkan chemistry yang solid. Kolaborasi ini memungkinkan mereka bereksperimen dan menggabungkan kekuatan masing-masing, menghasilkan sebuah komposisi yang tidak hanya kuat secara pesan, tetapi juga matang secara musikal. Sentuhan Alternative Rock mereka yang khas dengan sound gitar yang tegas dan vokal yang penuh karakter, berhasil membungkus pesan sosial menjadi sebuah track anthem yang enerjik dan mudah dicerna.

Secara keseluruhan, ayat-ayat “Kultus Para Pendosa” adalah sebuah langkah kepercayaan diri dan berani dari DPRTYBAND. Mereka tidak hanya konsisten dengan identitas sebagai band yang kritis dengan isu sosial melalui musik keras, tetapi juga menunjukkan pematangan dalam menyampaikan kritik yang lebih kompleks dan berbobot. Sebuah karya yang patut diapresiasi, baik untuk dinikmati aransemennya maupun untuk direnungkan pesan di baliknya. 

DPRTYBAND membuktikan bahwa dari sebuah tongkrongan di Karawang, bisa lahir suara yang lantang dan memiliki peran penting untuk didengarkan.Single beserta videoklip “Kultus Para Pendosa” kini sudah beredar bebas di Spotify dan Youtube. Congratulations Fren! (INQ)

“Silit Pitik” Pernyataan Amarah Sosial  yang Meledak Milik Band Mitos Jogja ALTER\EGO

Categories: Music

Share
ALTER\EGO, band mitos dari Jogja yang kerap menghilang dan muncul bak fenomena, kembali menepati janjinya sebagai corong suara wong cilik yang lagi penat. Di usia ke-15, mereka tidak merayakannya dengan lagu cengeng melainkan dengan 'Silit Pitik' yang berarti ‘Pantat Ayam’, sebuah istilah jawa kuno yang keras, nyeleneh, dan sedikit tabu.

Mereka membawa pesan yang tajam secara simbolis pasca album 'Reaksi Kimia' yang memastikan kalo amarah mereka tentu saja belum mereda. Malah semakin menemukan bentuk baru yang lebih kultural. 'Silit Pitik' menjadi lagu pertama mereka yang menyisipkan bahasa Jawa sebagai ciri intensitas intimate dan sarkastik pada akar persoalan para kaum bawah yang menjadi korban politik tanpa henti.

Nova Abdillah (Artzex) menciptakannya sebagai aksi tanggapan tajam atas "kelakuan para pejabat negara" yang tak becus. Liriknya yang diilhami pepatah Jawa kuno menjadi pisau bedah tajam yang menyayat borok penguasa, sambil meratasi luka rakyat yang protes di jalanan berakhir dengan represi brutal aparat.

Proses kreatifnya sendiri mencerminkan urgensi pesan yang dibawakan oleh Artzex (vokal, gitar), Agib Tanjung (bass, vokal), Bagoes Kresnawan (Drum) dan Anshar Aziz & Elang Nuraga (gitar). Lagu ini direkam tanpa banyak kerumitan, hanya berupa file-file dengan semangat DIY yang membara. Adapun pada drum Bagoes Kresnawan direkam di GAS Studio pada September kemarin pasca gelombang demonstrasi besar-besaran di ibukota. Mereka mencoba menangkap getaran kegelisahan yang masih segar di ingatan. Secara keseluruhan, instrumentasi rampung hanya dalam dua jam di Neverland Studio. Sebuah bukti bahwa amarah yang tulus tak butuh rekayasa berlebihan.

Lewat 'Silit Pitik', ALTER\EGO juga meneriakkan seruan atas buruknya kinerja pemerintah. 

"Puncaknya adalah ketika warga protes ke jalan untuk perubahan, aparat malah bersikap represif. Ratusan orang luka-luka, bahkan belasan nyawa melayang," ujar Artzex.

Dari semua rentetan peristiwa itu, maka wajarlah jika banyak warga masyarakat merasa makin muak terhadap kelakuan para pejabat negara. Dan ALTER\EGO merasa perlu mewakili keresahan ini melalui lagu protes dengan singkat, jelas, dan padat. Dalam konteks ini, lagu ini berfungsi sebagai pengingat sekaligus whistle blower agar pemerintah dapat memberikan solusi, bukan seperti kotoran bau yang keluar bebas dari pantat ayam seenaknya. 

Secara musikal, lagu ini sebagai pondasi kokoh sebuah band dengan semangat punk rock dan grunge yang menjadi DNAALTER/EGO dibungkus dengan bahasa yang lebih membumi dan metafora lokal yang menusuk. Salah satu pencapaian besar dari band yang sejak awal memang lahir dari semangat 'alter ego' untuk berekspresi lebih bebas.
'Silit Pitik' berikan hadiah tamparan keras untuk mereka yang berkuasa. 

ALTER/EGO membuktikan bahwa setelah 15 tahun eksistensinya masih relevan, masih berani, dan tetap menjadi suara yang tak ingin dibungkam. Di tengah ramainya lagu cinta dan fantasi, kehadiran mereka dengan lagu seperti ini bukan saja perlu, tapi juga sebagai bentuk perlawanan esensial terhadap ketidakadilan negara kepada rakyatnya.

"Stay nesu, tetaplah marah pada pemerintah yang dzalim dan juga kepada aparat yang selalu menciptakan momen horor dan rasa tidak aman pada warganya. Jangan lelah bersuara sampai keadilan sosial bagi seluruh rakyat benar-benar terwujud," tutup Anshar Aziz sang gitaris ALTER/EGO.

(INQ)

SNICKERS AND THE CHICKEN FIGHTER Perkenalkan K.I.M “Keep It Moving” Sebagai Single Enerjik Terbaru Mereka

Categories: Music

Share
Halo Bvckle’s Fren! Kali ini kita bahas temen-temen kita dari Malang, Snickers And The Chicken Fighter (SATCF), yang baru aja nge-drop single terbaru berjudul "K.I.M (Keep It Moving)".

SATCF terkenal dengan karya-karya lama mereka yang nge-punk rock atau melodic punk, bedanya di lagu ini Cahaya Satya Andhyka (Gitar), Jaka Satya Putra (Drums), Jefri Triharto (Gitar), Aditya Kurniawan (Vocal, Bass), Albertus Prima Karuniargo Oneding (Keyboard) mencoba kasih sentuhan yang lebih modern tapi tanpa ninggalin identitas asli mereka di SATCF sebelumnya. Kombinasi antara energi melodic hardcore dan flow rap yang agresif bikin lagu ini jadi seru untuk didengerin!

Liriknya juga nggak main-main, mereka galakkan keresahan soal ketidakadilan yang masih terjadi di sekitar kita. Ada semangat perubahan yang kental seperti di bait,

"Aiming for the top, started from the bottom now we here"

"Hands in the air, we screamin’ for change". 

Lagu yang bikin pendengarnya headbang dengan pesan sosial yang juga cukup related dengan kondisi zaman sekarang.

Menurut Adit, vokalis SATCF, sound di “K.I.M” sebenernya udah jadi fondasi sejak lama, cuma bedanya sekarang disesuaikan dengan influence dari energi raw milik para musisi seperti Joey Valence & Brae, End It, dan Angel Du$t. Jadi, buat yang udah kenal dari album self-titled mereka tahun 2011, ini kayak evolusi yang pas tanpa kehilangan rasa.

Yang menarik, meskipun lagu ini berbahasa Inggris untuk energi yang lebih global, tapi SATCF tetep janjiin akan ada dua lagu berbahasa Indonesia dalam rilisan selanjutnya. 

Cause we’re proud to be Indonesian people!.” Ungkap mereka.

Mereka tetap menjaga keseimbangan antara lagu-lagu upbeat yang sarat kritik dan materi yang lebih personal, karena inspirasi terbesar mereka memang datang dari kehidupan sehari-hari.

Overall, "K.I.M (Keep It Moving)" adalah single yang solid, energik, dan punya pesan kuat. Cocok buat lo yang butuh musik buat semangat sekaligus refleksi. Yuk dengerin di Spotify, Apple Music, atau YouTube. Dukung musik lokal, dan tetap berpikir kritis! (INQ)