Yogyakarta Tak Pernah Padam! Meet 24 Degrees, Band Baru yang Bikin Kamu "Sesal" dan Ga Bisa Move On

Categories: Music

Share
Tidak diragukan lagi kalo Yogyakarta udah diakuin sebagai gudangnya bibit musisi seniman berkelas, mulai dari yang indie sampai yang mainstream (you name it !!!), semakin hari makin ada aja yang muncul dengan warna barunya. Untuk kalian yang suka dengan band alternatif rock/modern rock, coba dengerin salah satu quartet baru, 24 Degrees yang baru aja nge-drop single perdana mereka yang judulnya “Sesal”

Band yang dihuni  formasi Yopi (Vokal), Bektigun (Gitar), Sunnah (Bass) & Aline (Drum) mengenalkan lagu “Sesal” dengan sentuhan rock futuristik dan yang pasti emosional banget.


The main theme dari lagu “Sesal” adalah sesuatu yang relatable di era sekarang. Bukan kayak nyesel udah bikin kopi, baru inget pas udah dingin dan rokok udah habis atau pas ngabisin nasi goreng tapi kelupaan makan kerupuknya, tapi ini karena menyesal karena salah ambil keputusan, khususnya dalam intimate long relationship.

Bayangin ketika kalian stuck with someone, tapi feelsnya kayak jadi “tawanan” di hubungan itu hingga kemudian tersadar dan akhirnya keluar dari situasi toxic relationship tersebut.

“Pesan yang mau kita sampein tuh, bahwasanya banyak banget pelajaran berharga saat kita salah mengambil keputusan, namun baru ngerasain ‘sesal’ setelah endingnya. Contoh yang paling relate, ya, salah milih pasangan.” Ujar Yopi, sang vokalis.

Sunnah juga menambahkan kalo liriknya menjadi refleksi dan pengingat buat kita jadikan penyesalan itu sebagai bahan pelajaran, agar kedepannya bisa lebih bijak lagi dalam memilih sesuatu dan menjadikannya sebagai keputusan yang tepat.

Jadi, lagu ini bukan cuma buat galau, tapi juga sebagai pembelajaran. Draft lagu “Sesal” ini awalnya datang dari duet Yopi (yang bikin lirik) dan Sunnah (yang merangkai notasi musiknya). Trus, konsep dasar itu mereka bawa ke Bektigun dan Aline untuk disempurnakan bareng-bareng pas workshop di studio. Jadi, bener-bener hasil karya kolaborasi dari seluruh personil. Goks!

Nah biar karyanya makin solid dan powerful, mereka turut menggandeng dua nama beken sebagai music director yaitu Mas Abraham Mico (Pleasure Seekers) yang bantu urusan aransemen, dan Mas Sasi Kirono (Smarabaya) yang pegang mixing dan mastering. Semua track direkam di Satrio Piningit Studio. So, kualitas audionya udah pasti dijamin mantap fren!

Alkisah cerita terbentuknya 24 Degrees itu ternyata tanpa rencana dan digagas secara spontan (uhhuy!!!) pas acara Agustusan Tahun 2025 kemarin. Awalnya, Bektigun, Sunnah, dan Aline lagi nongkrong bareng dan sepakat buat bikin band. Fun fact-nya, Bektigun dan Aline ternyata sempat ngeband bareng 10 tahun yang lalu tapi harus berhenti karena kesibukan masing-masing.

Nah dari pertemuan itu, tanpa nunggu waktu lama mereka akhirnya sepakat nunjuk Yopi sebagai vokalis. Alasannya karena Visi misi mereka satu sama lain udah klop banget karena sejak dulu emang demen musik rock, emo dan genre sejenisnya.

Yang bikin lebih uniknya lagi, latar belakang ketiga personil 24 Degrees itu kini udah jauh dari yang namanya musik! Cuma satu yang kerjaannya masih nyentuh musik yakni Sunnah sebagai pengajar musik. Sedangkan Bektigun sebagai OwnerPercetakan Konveksi/ Clothing, Yopi sebagai Traveller dan Aline sebagai Kontraktor bangunan. Alig-Alig!

Tapi dengan background dan kegiatan yang lumayan padat, nyatanya mereka bisa komit untuk tetap bisa main musik, biar nggak cepat tua katanya.

“24 Degrees adalah sebuah alter ego kami untuk tetap bisa bersenang-senang dan merawat persahabatan dengan menghasilkan karya yang tulus dari hati kami masing-masing.” Ujar Aline, sang drummer.

Setelah “Sesal”, 24 Degrees udah punya project planning dalam waktu dekat akan fokus menggarap dan ngerilis mini album atau Extended Play (EP) yang berisi 5 lagu! Rencana tersebut sebagai misi pembuktian mereka bahwa musisi harus selalu aktif dan aktual dalam berkarya. Semakin banyak karya, semakin banyak potensi orang untuk mengenal dan mengapresiasi. Selain itu juga mereka akan melangsungkan tur mandiri ke beberapa kota kecil di Pulau Jawa sebagai bagian dari promosi launching EP mereka.

Mini album perdana mereka ditargetkan selesai pada akhir 2025 yang akan mengusung tema ‘romance’ dengan balutan distorsi gitar yang tegas dan vokal yang menghanyutkan. 

Jika rencana tersebut terlaksana maka akan semakin mempertegas bahwa Jogja bakal punya lagi salah satu kwartet modern rock berbahaya yakni 24 Degrees !!!

Lagu “Sesal”udah bisa kita dengerin di semua platform streaming kayak Spotify, Apple Music, dan Deezer sejak 26 September 2025. Buat yang pinisirin dengan liriknya, nantikan video lirik dan music video-nya di channel YouTube 24degrees Band. Lesgo Support Fren! (INQ)

Purple Night Vol.7: Nyalain Lagi Api Musik Karawang

Categories: Collaboration

Share
Hi guys, Tanggal 04 Oktober kemarin salah satu event lokal, Purple Night Vol. 7 yang digelar di Bro King Cafe Karawang bener-bener jadi epicenter of good music! Bukan cuma sukses bikin jantung berdebar, tapi juga bikin kita makin jatuh cinta sama musik lokal. Buat mereka yang dateng, pasti setuju ini salah satu best moment untuk melepas penat di Malam Minggu.
 
Apa sih yang bikin malam itu spesial? Yap, kombinasi antara ketiga band dengan vibes saling silang genre dan sama-sama all out ngebakar panggung! Ketiga band tersebut terdiri dari Javanese Cat, Taksanada dan James Steady, band asal Cirebon.

Pukul 19.00 lewat dikit, Opening duo MC, Adji dan Ferry menyapa para audiens dengan gaya kocak mereka dan menghibur diselingi gimmick game bersama beberapa penonton terpilih. Selain itu juga mereka mengunjungi booth salah satu mitra Karawang Trend Market (KTM) yaitu Girls Day Out yang custom specialized membuat aneka koleksi aksesoris lucu untuk kaum hawa seperti gelang, kalung, hair clip, keychain dll. 

Tidak lama kemudian, trio grunge Javanese Cat sebagai penampil pertama kompak naik kepanggung dengan kostum unik bin ajaib yaitu dengan baju batik PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), sebagai bentuk perayaan Hari Batik Nasional mulai beraksi diatas panggung dengan membawakan beberapa lagu mereka seperti “Hal yang Sama”, “Senja di Rawa Buaya” dan kolaborasi bersama vokalis Taksanada, Aprilia membawakan lagu “Terbuang dalam Waktu” milik Barasuara dan lagu “Larut”. Disini penampilan Abay (drum), Fikri (bass) dan Ray a.k.a Iga Masyallah (gitar) sedikit “out of the box” dari yang biasanya tampil lepas tanpa beban saat manggung, tapi khusus di Purple Night mereka rupanya “nekad” bawain lagu-lagu yang tidak biasa dan penuh test mental sebagai bagian dari pengalaman yang tidak terlupakan.

Pada penampilan kedua, suasana malam sedikit mencair dengan hadirnya Taksanada dengan pop folk mereka yang membawa kita semua bernostalgia dengan nuansa tenang yang menghanyutkan. Di malam itu, formasi Taksanada yang tampil tanpa sang vokalis Fizol membawakan beberapa karya single mereka seperti “Diskusi”, “Nirmala Paling Sempurna”, “Selagi dalam Peluk” & “Alinea Problematika”. Lantunan lagu folk puitis yang Taksanada bawakan membuat audiens seperti mendapatkan teman bicara yang baik dalam membuka ruang untuk kita sesaat merasakan, mengingat, dan merenung. 

Sebagai Klimaks pada Purple Night Vol.7, James Steady dari Cirebon yang datang dengan energi rawk and beat mereka yang bikin gak bisa diem! Beatnya bikin badan auto goyang, gitar riffnya catchy, dan energinya dari awal sampe akhir bikin gerah! Beberapa hits single mereka seperti Riot City Rockers, Funky Fire dan Politik Adalah Tuhan udah cukup membuat para penonton berpogo ria tanpa henti didepan stage. James Steady yang terdiri dari Rangga (vokal), Bayu (gitar), Nicko (keyboard), dan Teguh (drum) udah buktiin kalo musik ala reggae dan funk itu masih hidup dan tetap berdenyut keras di Karawang malam itu. Their stage were "steady" but unstoppable steady on the dance floor!!!

“Purple Night merupakan event berkala untuk musisi lokal yang bergerak sejak 2024 kemarin dan saat ini sudah memasuki momen yang ketujuh (Vol.7) dan akan terus berlanjut dalam mewadahi talenta musik yang ada di sekitar Karawang.” ujar Wijay selaku Creative Director Event Purple Night.

Wijay yang awalnya juga merupakan bagian dari anak tongkrongan biasa yang hobi nonton festival musik, dan tergerak untuk membuat acara musik sendiri memiliki harapan agar Karawang menjadi salah satu barometer musik nasional dan akan terus memperkenalkan bibit-bibit musisi agar bisa dikenal secara luas melalui event seperti Purple Night. 

"Tujuan Purple Night nggak cuma sekedar ngadain acara musik doang, kita mau bikin wadah dimana musisi lokal terutama yang punya warna khas bisa terus berkarya dan akhirnya dapat face to face langsung dengan penikmat musiknya." tutupnya.

Wijay juga ngasih bocoran dikit kalo diakhir tahun nanti akan ada pagelaran Festival Purple Night yang tentunya akan lebih besar dan megah dari yang biasanya. Sementara untuk agenda Purple Night selanjutnya akan diadakan pada tanggal 18 Oktober ini.

So stay tuned di social media Purple Night untuk informasi band line up nya yang pasti bakal bikin kalian ga sabar untuk segera ikutan! (INQ)

Special Thanks to: Kedai Kopi Bro King, Karawang Trend Market, Bvckle Smiggle, Forum Musisi Karawang, Girls Day Out, Mechanical Struggling & Dprtman.00. 

The Polar Bears Rilis Threadbare, Sebuah Catatan Emosional Tentang Tumbuh dan Terluka

Categories: Music

Share
Yuhuu fren! Buat kalian yang nungguin rilisan album yang segar di scene musik Indonesia terutama pada genre math rock/ midwest emo, maka kamu wajib pantengin salah satu band jagoan dari Malang, The Polar Bears. Band ini baru aja meluncurkan album perdana mereka yakni, “Threadbare” pada bulan September kemarin dan udah bisa streamingeksklusif di semua music platform dan Bandcamp lewat label indie Malang, Haum Entertainment sejak 20 September 2025.

By the way, nama band mereka ternyata inspired by sama salah satu lagu legenda Midwest Emo, Tiny Moving Parts, yang judulnya "Polar Bear” So, bisa ditebaklah music influence mereka kuat banget dari para jagoans genre ini kayak Covet, CHON, Free Throw, sama American Football. Kalo di Indonesia pastinya wajib ada Eleventwelfth dong, hehehe.

Band Trio yang terdiri dari Yudhistiro Lilo Pambudi (Guitar/Vocal), Reffyga ‘Pey’ Pratama Yudana (Bass/Vocal), dan Marcellino Gibrany (Drum/Percussion/Vocal) ternyata awal bikin The Polar Bears tahun 2022 itu cuma sebagai proyek iseng belaka lho! Tapi seiring dengan berjalannya waktu, sekarang band ini udah jadi band solid dengan satu visi yang relate banget buat nemenin kita-kita yang lagi melewati fase quarter life crisis. Vibesnya tipikal Midwest Emo/Math Rockyang twinkly banget, dengan guitar chops yang variatif plus vokal yang gritty tapi tetep melodius. Trust me, buat kalian yang suka dengerin aliran ini, rasanya kayak ketemu long-lost sibling dari Amrik sono!

Album “Threadbare” milik para Beruang Kutub ini sejatinya kayak diary digital yang isinya curhatan emosional seputar jatuh cinta, patah hati, hingga suka duka fase kedewasaan, dan arti self-reflection. Lewat 10 lagu yang disusun secara naratif, kita diajak nyebur kedalam aransemen musik yang twinkly dan lirik yang dalem banget. Tracks yang wajib kamu pantengin di album Threadbare: “More than You Can Chew”, “Cold Feet” sama “Being Alone Means...” Oh iya, lagu yang judulnya “524” juga keren tuh karena liriknya satu-satunya yang bahasa Indonesia di album tersebut.

“Di umur middle age 20’s ini, kami ngerasa proses hidup emang harus lewatin momen senang dan sedih buat bikin kita jadi pribadi yang lebih matang. Dan semua itu tertuang secara kompleks di album Threadbare sesuai sudut pandang kami sendiri,” jelas Reffyga.

Nah untuk proses produksi albumnya juga pure independent banget! Mereka ngumpulin lagu-lagu buat bikin album ini sejak 2024 sampe 2025 via home recording di beberapa studio hingga terkumpulah 10 tracks yang menjadi karya final di album “Threadbare”. Asli semuanya dikerjain sendiri seadanya, tapi hasilnya aesthetic banget pokoknya! 

“Kami sadar produksi album butuh resource yang nggak murah, jadi kami bagi tugas dan bikin sebagian lewat pendekatan rekaman rumahan,” tambah Marcel.

Kesimpulannya, Album “Threadbare” milik The Polar Bears adalah sebuah rollercoaster emosi dimana perpaduan kerumitan instrumen teknikal yang memukau otak, lirik yang berkisah secara jujur dan vokal yang berteriak menyentuh jiwa. Sungguh sebuah pengalaman yang melelahkan secara emosional namun juga menghibur. 

Kondisi sebuah pelarian yang justru membuat kita berhadapan dengan perasaan sendiri, dan akhirnya merasa lebih ringan dan tidak sendirian setelahnya setelah mendengarkan album ini..

Jadi, buat kalian yang lagi cari soundtrack jatuh cinta atau sebuah catatan emosional ketika tumbuh maupun terluka, wajib dengerin lagu - lagu mereka. Pejamkan mata sejenak dan rasakan sensasi makna dari semua lagu di Album “Threadbare”, The Polar Bears. Congratulations! (INQ)