Modernheads Rilis “Oh No (We're Scared Anyway)”, Lagu Buat Generasi Romance Trouble

Categories: Music

Share
Jika sosok alter ego dari Joey Ramones bareng Sid Vicious nyasar disebuah pesta rumahan yang hingar bingar dan sudah mabok berat kemudian saling debat garing soal siapa yang punya leather jacket style yang paling ikonik? Nah, kira-kira kayak gitulah vibes dari lagu terbaru Modernheads, "Oh No (We're Scared Anyway)". 

Mereka berhasil bikin lagu indie rock yang soniknya emang enak di kuping, tapi sebenernya ini adalah kronik kejahatan emosional kita. It’s like a bad decision soundtrack yang somehow terasa terlalu seru buat dihentikan dengan classic happy atau epic ending.

Intro beat drum solo disusul dengan raungan para gitaris ala The Strokes seperti berjibaku dengan lirik unplanned love story

"i meet you at the back of a late night scene 
don't plan to fall, but tonight oh girl you look so clean”

“you laugh at all my jokes, i lose my things, now I can't let go...”

dan berakhir dengan keraguan tanpa kejelasan:

“we both know what is wrong, and we're scared anyway”

“oh no... we don't care, that the night won't end
so we're not just a friend, need to get away from all this thing // I can't pretend...”

Ibaratnya seperti mantra suci buat pasangan sejoli yang sebenarnya udah tahu kalo hubungan ini akan gagal, tapi tetep aja nekad dilakuin. Karena jujur aja, syair pop mendayu terasa terlalu sehat dan membosankan banget~ye kan... IYKYK

Modernheads adalah sebuah band garage rock revival asal Surabaya yang lahir sejak awal 2020. Band yang kini digawangi Erwin (vokal), Aswin (bass), Ardi (drum), Glaop (gitar), dan Prass (gitar) dikenal dengan musik rawk yang terinspirasi oleh skena New York dan band-band seperti The Strokes dan Arctic Monkeys. Selain single diatas, Modernheads juga telah merilis beberapa karya musik, termasuk mini album berjudul "Lo/Hi" (2021), beberapa single seperti, “Self Comfy-Dance” (2020), "Modern Junk Art" (2020), “Old Crush, New Year” (2022) dan "1331" (2022). 

Single "Oh No (We're Scared Anyway)" officially telah dirilis dibawah naungan Paska Records pada bulan September kemarin di platform Spotify.  

So, coba deh selipin lagu “Oh No (We're Scared Anyway)” di antara "I Love You So" nya The Walters dan "Last Nite" nya The Strokes di playlist Spotifymu. Dengerin sekali dan kamu mungkin bakal nyengir sambil keinget satu malam konyol yang entah kenapa sampe sekarang masih kamu anggap sebagai salah satu good decision that you‘ve ever made. Congratulations Modernheads! (INQ)

Sun u See Rilis EP “Last Illusion”, Teriakan Kaum Muda Sukabumi tentang Perjalanan Memori dalam Tekanan Sosial

Categories: Music

Share
Formasi solid Sun U See sejak 2020 yang terdiri dari Reza (vocal & gitar), Rival (gitar), Bobby JP (bass), dan Panji (Drum) mencoba menggelorakan energi Garage Rock Revival dan Post-Punk Revival era 2000-an dengan sentuhan lokal yang authentic.

Yang bikin keren lagi, nama Sun u See ternyata terinspirasi dari K.H Ahmad Sanusi,  pahlawan nasional asal Sukabumi yang merupakan tokoh agama sekaligus politikus dan salah satu perumus dasar-dasar negara serta menjadi penengah dalam perdebatan pembentukan NKRI. 

Pada EP Album “Last Illusion” terdiri dari lima lagu yang saling merangkai cerita kehidupan anak muda yang rebel, ambitious dan tentunya critical:

• Anthem of the Youth - Ajakan buat lepas dari beban benar atau salah dan  merayakan hidup aja

• Dancing in the Fire - Kritik tajam atas budaya destruktif yang makin merajalela

• This is What You Will Feel If You Dare to Try It - Peringatan soal tekanan sosial yang berkedok solidaritas

• Taktik Jitu - Satir pedas soal permainan manipulatif di dunia malam

• Cigarettes Smoke Swirl - Narasi puitis tentang kenangan yang membaur diudara seperti asap tebal rokok kretek.

Secara keseluruhan, album “Last Illusion” mengajak kita road trip imajinasi sambil curhat tentang hidup yang isinya teriakan mental melawan tekanan sosial, kritik atas budaya mainstream hingga tentang individualitas yang ingin merdeka. 

"Album Last Illusion bukan tentang pencitraan atau tren. Ini murni pengalaman pribadi yang dikemas menjadi sekumpulan lagu berkarakter kuat. Kita ingin para penyendiri diluar sana tahu kalo ada suara lantang yang terinspirasi dari keresahan mereka selama ini," ungkap mereka.

Buat yang penasaran nih, Album "Last Illusion" kini bisa dipantengin 24 jam disemua platform streaming. Siapa tau jadi temen kalian pas lagi overthinking jam 2 pagi mikirin beban kerjaan! LETS ROCK !!! (INQ)

  1. Schecter Pilih Fritz Faraday! Gitaris Bless The Knights Jadi Ikon Baru Musik Keras

Categories: NEWS

Share
Jakarta - Skena metal Indonesia punya kabar yang bisa bikin kepala angguk-angguk bangga. Fritz Faraday, shredder dari unit djent metal Bless The Knights, resmi digaet jadi brand ambassador Schecter Guitars , yup! salah satu brand gitar paling legendaris di dunia musik keras.

"Puji Tuhan, luar biasa banget rasanya, ga pernah gue bayangin bisa merepresentasikan brand sebesar Schecter. Happy banget karena Schecter itu legendary brand yang dipakai gitaris-gitaris dunia seperti Synyster Gates & Zacky Vengeance (Avenged Sevenfold), Keith Merrow sampai Pupun Dudiyawan (Kapten) yang bikin gue main musik keras," ungkapnya.

Kenapa Harus Schecter?

"Pada akhirnya pilihan gue jatuh ke Schecter karena sesuai sama karakter gue — 7 strings, humbucker & active pickups, dan tentu aja karena brand ini identik dengan rockers/metalheads. Support luar biasa dari tim Tiga Negeri Musik (Pak Yandi & Mas Abiem Endy) juga bikin gue mantap buat join keluarga Schecter," jelas Fritz melanjutkan alasan kenapa Schecter.

Meski sempat dapat tawaran dari brand lain, Fritz gak main-main soal pilihan. Dia jatuh ke Schecter karena feel, sound, sampai identitasnya nyatu sama gaya mainnya: 7 strings, humbucker, active pickups, dan vibe metalhead sejati. Plus, support dari Tiga Negeri Musik (Pak Yandi & Mas Abiem Endy) bikin langkah ini makin solid.

Cerita awalnya pun cukup organik, dari nyoba gitar Schecter di acara Kompas TV, terus nyambung diskusi, dan akhirnya berlabuh jadi keluarga besar Schecter. Gitar Schecter bahkan siap nongol di video musik terbaru Bless The Knights.

Sebuah Senjata Perang: Damien 7 & C-7 Pro

Sekarang, Fritz mengandalkan dua gitar utamanya: Schecter Damien 7 dan Schecter C-7 Pro. Dua-duanya jadi perpanjangan tangan buat menyalurin agresi musik keras khas dirinya.

 "Schecter was built for heavy music, jadi playability, dimensi, sampai pickup udah support banget buat gaya main gue. Bahkan orang kalau denger nama Schecter aja udah langsung tau, ‘oh, gitar metal nih,’" tegasnya.

Lebih dari Sekadar Nama Brand

Endorsement ini bukan cuma label buat dipajang di bio. Buat Fritz, Schecter adalah dorongan ekstra buat ngejaga konsistensi berkarya dan nge-push diri lebih jauh. Dari movement album Bless The Knights sampai proyek-proyek lain, kerja sama ini jadi energi baru buat perjalanan kariernya.

Lebih personal, Fritz nganggep gitar udah kayak bagian dari hidupnya:

 "Gitar itu benda sakral ke-2 setelah Alkitab, belahan hidup gue selain istri. Gitar yang bikin gue semangat jalanin hari-hari, udah nemenin gue bertahun-tahun menghadapi kerasnya hidup, Jadi gitar gue ya sama dengan diri gue, gak bisa terpisahkan. Bahkan lagi liburan, kerja atau persiapan nikah pun selalu bawa gitar" tuturnya.

Pesan ke Generasi Metal Indonesia

Sebagai penutup, Fritz gak lupa titip pesan buat gitaris muda yang lagi ngebet ngegas di jalur musik keras:

 "Kerja keras dan berdoalah. Cari lingkungan yang positif karena musik ini bisa bikin hidup kita berwarna kalau dimanfaatkan dengan baik, tapi juga bisa menghancurkan kalau lifestyle-nya yang dijadikan acuan, bukan karya,"pungkasnya.

Dengan langkah ini, Fritz Faraday gak cuma jadi gitaris metal dari Jakarta. Dia udah nunjukkin kalau musisi skena bisa berdiri sejajar di level global — bawa nama Schecter, bawa nama Bless The Knights, dan bawa nama Indonesia. Congratulations! (INQ)